Uni Eropa menggelontorkan bantuan kemanusiaan darurat senilai 200 ribu euro atau sekitar Rp4,02 miliar untuk membantu masyarakat Indonesia yang terdampak bencana kekeringan berkepanjangan.
Bantuan ini ditargetkan menyasar sekitar 200 ribu warga di wilayah yang paling parah terdampak guna menjaga pasokan air bersih serta menekan risiko gangguan kesehatan.
Berdasarkan keterangan resmi Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, penyaluran bantuan akan dilakukan melalui kerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI). Skema bantuan mencakup pendistribusian air bersih menggunakan armada truk tangki, penyediaan fasilitas penampungan air, hingga edukasi perilaku hidup bersih dan sehat kepada masyarakat.
Selain pemenuhan kebutuhan air, bantuan ini juga mencakup aspek medis seperti pembagian masker serta pengadaan oxygen concentrator untuk sejumlah fasilitas kesehatan rujukan di wilayah dengan kualitas udara yang memburuk.
Rendahnya curah hujan dalam jangka panjang telah memperparah krisis air bersih di sejumlah kawasan di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi. Cuaca ekstrem ini turut meningkatkan risiko dehidrasi, heat stroke, hingga infeksi saluran pernapasan akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pendanaan darurat ini bersumber dari Disaster Response Emergency Fund (DREF) milik Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) yang didukung oleh Komisi Eropa.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan fenomena El Niño tingkat moderat hingga kuat masih akan bertahan hingga awal 2027. BMKG memproyeksikan awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia bergeser lebih lambat, dengan puncak curah hujan diperkirakan berlangsung antara Desember 2026 hingga Februari 2027.




















