Upaya Freeport-McMoRan (FCX.N) untuk mengembalikan kapasitas penuh tambang unggulannya, Grasberg, harus menghadapi rintangan baru. Perusahaan tambang tembaga publik terbesar di dunia tersebut mengumumkan bahwa pemulihan operasional di Papua berjalan lebih lambat dari perkiraan semula. Pengumuman ini langsung memicu reaksi negatif pasar, dengan saham Freeport anjlok lebih dari 8 persen di bursa NYSE.
Penundaan ini terjadi di saat yang krusial, ketika permintaan tembaga dunia tengah melonjak tajam. Grasberg saat ini hanya diproyeksikan mampu memulihkan sekitar 65 persen produksinya pada paruh kedua tahun ini—turun signifikan dari target awal sebesar 85 persen.
Kendala Teknis dan Ancaman "Mud Rush"
Masalah utama yang menghambat pemulihan berkaitan dengan kondisi bijih tambang bawah tanah yang menjadi jauh lebih basah akibat rembesan air tanah. Kondisi ini memaksa perusahaan melakukan modifikasi peralatan guna mencegah terjadinya mud rush atau banjir lumpur yang membahayakan keselamatan kerja.
Freeport kini tengah memasang "spillminators," sistem pembuangan tambang khusus yang dirancang oleh CAN Engineering Worx. Alat ini berfungsi sebagai pengaman tambahan saat memuat bijih ke dalam kereta angkut.
"Kami memahami solusi teknis untuk masalah ini, namun diperlukan waktu untuk melakukan modifikasi. Kami tetap optimis dapat memulihkan produksi secara aman," ungkap CEO Freeport, Kathleen Quirk, Kamis (23/4).
Dampak dari kendala teknis ini sangat terasa pada target produksi tahunan Indonesia. Freeport merevisi estimasi produksi tembaga dari Grasberg tahun ini menjadi 800 juta pon, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 1,1 miliar pon. Target produksi emas juga dipangkas menjadi 700.000 ons dari proyeksi awal 800.000 ons.
Tak hanya soal produksi, kecelakaan kerja yang terjadi tahun lalu juga memaksa Freeport menunda rencana konversi sumber energi tambang Grasberg dari batu bara ke gas alam hingga 18 bulan ke depan.
Kenaikan Biaya dan Laba Perusahaan
Meski volume produksi anjlok drastis pada kuartal pertama, Freeport tetap berhasil mencatatkan laba yang melampaui estimasi analis. Hal ini terbantu oleh meroketnya harga rata-rata tembaga dunia sebesar 36,7 persen sepanjang periode Januari-Maret yang mengompensasi rendahnya volume penjualan.
Namun, perusahaan tetap menghadapi tantangan kenaikan biaya operasional, termasuk harga diesel yang menambah beban tahunan sebesar 500 juta dolar AS. Terkait pasokan asam sulfat untuk pemurnian tembaga, Quirk menyatakan posisi perusahaan masih aman karena memproduksi sendiri di fasilitas smelter mereka, meski tetap memantau dampak konflik Timur Tengah dalam jangka panjang.










