36 tewas dalam longsor TPA di Filipina, pencarian 10 hari resmi dihentikan
Operasi pencarian di TPA Binaliw, Cebu City, Filipina resmi dihentikan setelah seluruh korban ditemukan, dengan total 36 orang tewas dan penyelidikan penyebab bencana segera dimulai.
Pemerintah Kota Cebu, Filipina pada Minggu (18/01) resmi mengakhiri operasi pencarian dan penyelamatan di tempat pembuangan akhir (TPA) Binaliw, sepuluh hari setelah longsoran besar sampah menewaskan puluhan orang dan melumpuhkan fasilitas utama pengelolaan limbah kota.
Jumlah korban tewas akibat insiden Binaliw mencapai 36 orang, sementara 18 lainnya mengalami luka-luka, termasuk empat orang yang masih dirawat di rumah sakit, sebagaimana dikutip dari laporan kantor berita harian Filipina, Inquirer.
“Operasi pencarian dan penyelamatan di TPA Binaliw secara resmi telah dihentikan,” kata anggota Dewan Kota Cebu, David Tumulak, yang juga ketua komite penanggulangan bencana, dalam pernyataan tertulis.
Ia menambahkan bahwa enam jenazah yang telah dievakuasi masih belum teridentifikasi.
Wali Kota Cebu, Nestor Archival, memastikan penyelidikan atas penyebab runtuhnya TPA akan segera dimulai. “Sekarang semua korban telah ditemukan, penyelidikan akan kami lakukan,” ujarnya.
Insiden terjadi pada 8 Januari ketika gundukan sampah setinggi perkiraan 20 lantai runtuh di Barangay Binaliw, menimbun para pekerja serta menghancurkan fasilitas pengolahan, area perawatan, dan kantor administrasi. Insiden itu juga mengganggu layanan pengangkutan sampah di seluruh kota.
TPA Binaliw dioperasikan oleh Prime Integrated Waste Solutions Inc. (PWS) dan melayani Cebu City serta kota tetangga Lapu-Lapu dan Mandaue.
Melansir laporan Inquirer, PWS menyatakan penilaian awal menunjukkan longsoran kemungkinan dipicu oleh gempa bermagnitudo 6,9 pada September 2025 lalu, rangkaian gempa susulan, serta hujan lebat berkepanjangan akibat Topan Tino (Kalmaegi) tahun lalu.
Kementerian Lingkungan Hidup Filipina telah mengeluarkan perintah penghentian sementara seluruh operasi TPA sambil menunggu hasil investigasi.
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr., saat mengunjungi Cebu pekan lalu, menjanjikan bantuan berkelanjutan bagi keluarga korban serta menegaskan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam penentuan tanggung jawab bencana tersebut.