BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Asia Tenggara percepat pengembangan nuklir di tengah krisis energi global
Indonesia menargetkan pembangunan dua reaktor modular kecil (SMR) pada 2034, sementara Thailand berencana menambah kapasitas nuklir sebesar 600 megawatt pada 2037.
Asia Tenggara percepat pengembangan nuklir di tengah krisis energi global
Pemandangan udara pada Minggu, 19 Januari 2025, menunjukkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bataan di Filipina. / AP
13 jam yang lalu

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu gangguan pasokan energi global mendorong negara-negara Asia Tenggara kembali mempertimbangkan energi nuklir sebagai solusi jangka panjang. Di saat yang sama, kebutuhan listrik melonjak tajam akibat ekspansi pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) di kawasan tersebut.

Di tengah tekanan tersebut, sejumlah negara ASEAN mulai menghidupkan kembali rencana pengembangan energi nuklir yang sebelumnya tertunda. Jika target yang dicanangkan tercapai, hampir setengah negara di Asia Tenggara berpotensi memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir pada dekade 2030-an.

Selain faktor geopolitik, lonjakan kebutuhan listrik juga dipicu oleh pertumbuhan industri digital. Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan Asia Tenggara akan menyumbang sekitar 25 persen dari pertumbuhan permintaan energi global pada 2035.

Lebih dari 2.000 pusat data telah beroperasi di kawasan ini, tersebar di Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Jumlah tersebut diprediksi terus meningkat seiring banyaknya proyek baru yang sedang dikembangkan.

Malaysia muncul sebagai salah satu pusat utama, dengan ambisi menjadi hub komputasi AI regional. Investasi dari perusahaan teknologi besar seperti Microsoft, Google, dan Nvidia memperkuat posisi tersebut.

Pusat data skala besar membutuhkan pasokan listrik yang stabil dan besar. Menurut IEA, satu fasilitas AI dapat mengonsumsi listrik setara dengan 100.000 rumah tangga.

TerkaitTRT Indonesia - Indonesia, AS, dan Jepang gelar konferensi reaktor modular kecil nuklir di Jakarta

ASEAN bergerak cepat

Setidaknya lima negara ASEAN diantaranya Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina, kini aktif mengembangkan energi nuklir.

Vietnam termasuk yang paling maju, dengan pembangunan dua pembangkit nuklir bekerja sama dengan perusahaan Rusia, Rosatom. Perdana Menteri Pham Minh Chinh menyebut proyek tersebut sebagai proyek strategis nasional.

Indonesia menargetkan pembangunan dua reaktor modular kecil (SMR) pada 2034, sementara Thailand berencana menambah kapasitas nuklir sebesar 600 megawatt pada 2037.

Filipina, yang pernah membangun pembangkit nuklir namun tidak pernah dioperasikan, kini menargetkan pemanfaatan energi nuklir pada 2032 setelah membentuk badan regulator baru.

Menurut Asosiasi Nuklir Dunia, negara-negara baru di sektor ini diperkirakan menyumbang sekitar 157 gigawatt kapasitas tambahan pada pertengahan abad, dengan Asia Tenggara berkontribusi hampir seperempatnya.

Selain untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang semakin berisiko, proyek nuklir juga bagian dari upaya negara-negara menekan emisi dan memenuhi permintaan listrik bersih, termasuk dari pusat-pusat data.

SUMBER:TRT Indonesia