BISNIS DAN TEKNOLOGI
3 menit membaca
AS beri pengecualian tarif untuk suku cadang dan komoditas perkebunan Indonesia
Pemerintah Indonesia menyatakan sejumlah produk ekspor, termasuk suku cadang dan komoditas perkebunan, akan mendapat pengecualian dari tarif baru Amerika Serikat yang dijadwalkan berlaku mulai akhir Juli.
AS beri pengecualian tarif untuk suku cadang dan komoditas perkebunan Indonesia
Indonesia-AS teken perjanjian dagang oleh Presiden Prabowo dan Trump di Washington, pada 19 Feb 2026. / BPMI Setpres

Pemerintah Indonesia mengungkapkan bahwa Amerika Serikat (AS) akan memberikan pengecualian tarif bagi sejumlah produk ekspor Indonesia, termasuk suku cadang dan komoditas perkebunan, di tengah rencana Washington memberlakukan tarif impor baru terhadap barang-barang asal Indonesia.

Pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya mengusulkan tarif baru sebesar 10 persen untuk produk Indonesia setelah menuduh Jakarta gagal menghentikan masuknya barang yang diproduksi menggunakan tenaga kerja paksa. Tarif tersebut akan menggantikan tarif sementara sebesar 10 persen yang akan berakhir pada 24 Juli.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan beberapa produk Indonesia akan dikecualikan dari kebijakan tersebut.

"Pengecualian diberikan untuk beberapa komoditas yang diproduksi di Indonesia, termasuk komoditas perkebunan dan bahkan suku cadang," kata Airlangga kepada wartawan di Jakarta, Senin (8/6).

Namun, Airlangga tidak menjelaskan apakah pengecualian itu juga mencakup minyak sawit mentah (crude palm oil atau CPO).

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Airlangga kembali dari Paris, Prancis, tempat ia bertemu dengan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer untuk membahas isu perdagangan kedua negara.

Pemerintah Indonesia memperkirakan dua investigasi yang dilakukan AS, yakni terkait dugaan penggunaan tenaga kerja paksa dan kelebihan kapasitas struktural sektor manufaktur, berpotensi mendorong tarif akhir menjadi 18 persen. Hasil penyelidikan terkait sektor manufaktur diperkirakan akan diumumkan dalam beberapa pekan mendatang.

Ketika ditanya mengenai besaran tarif final, Airlangga hanya mengatakan bahwa proses penyelidikan masih berlangsung.

Sementara itu, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan Washington telah berkomitmen memberikan pengecualian terhadap sejumlah pos tarif berdasarkan kesepakatan bersama.

Ia menambahkan, kesepakatan tersebut juga mencakup mekanisme khusus bagi produk tekstil Indonesia. Berdasarkan pernyataan kantor Jamieson Greer, mekanisme tersebut memungkinkan adanya pemotongan tarif untuk volume tertentu impor tekstil dari Indonesia.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai tidak ada alasan untuk khawatir terhadap kebijakan tarif terbaru AS.

"Kita mencatat surplus perdagangan terbesar dengan Amerika Serikat. Surplus perdagangan kita mencapai sekitar 18,1 miliar dolar AS pada 2025. Ekspor juga terus meningkat meskipun ada tarif resiprokal," ujar Budi.

Data pemerintah menunjukkan nilai ekspor Indonesia ke AS meningkat dari 26,5 miliar dolar AS pada 2024 menjadi hampir 31 miliar dolar AS pada 2025. Sementara pada empat bulan pertama 2026, nilai ekspor ke pasar AS telah mencapai hampir 10,2 miliar dolar AS.

Tarif resiprokal merupakan langkah proteksionisme perdagangan utama yang diperkenalkan Trump pada awal masa jabatan keduanya. Indonesia sempat menghadapi ancaman tarif hingga 32 persen sebelum kedua negara mencapai kesepakatan pada Februari yang menurunkan tarif menjadi 19 persen.

Namun, Mahkamah Agung AS kemudian memutuskan bahwa Trump tidak memiliki kewenangan untuk menerapkan tarif resiprokal tersebut. Sebagai respons, pemerintah AS memberlakukan tarif impor sementara sebesar 10 persen dan meluncurkan dua penyelidikan terkait praktik perdagangan tidak adil terhadap Indonesia untuk mempertahankan kebijakan tarifnya.

TerkaitTRT Indonesia - AS tetapkan tarif 10 persen untuk Indonesia dalam Skema Section 301
SUMBER:TRT Indonesia
Jelajahi
Kadin buka peluang investasi Swedia di Indonesia, soroti IEU-CEPA dan OECD
Rupiah melemah di tengah kenaikan harga minyak, ICP Indonesia jadi $89,43 per barel
PT Timah perluas ekspor ke Filipina dan Inggris, bidik Timur Tengah pada 2027
Kemendag dorong UMKM tingkatkan ekspor ke pasar global memanfaatkan teknologi AI
Penerapan B50 hemat devisa negara hingga Rp170 triliun, pangkas impor solar secara signifikan
Pemerintah ambil alih saham pengelola kereta Whoosh, utang direstrukturisasi hingga 80 tahun
Indonesia dan Australia mulai evaluasi total perjanjian kerja sama ekonomi IA-CEPA
Pemerintah perluas inklusi keuangan melalui penyediaan rekening bagi masyarakat
Kemenkeu pastikan siap tanggung utang Kereta Cepat Whoosh tanpa investor luar
Cadangan devisa naik $146,5 miliar pada Agustus 2026, BI: Ketahanan eksternal tetap solid
Ekspor sawit dorong kinerja perdagangan RI, nilai non migas tembus $160 miliar
Industri galangan kapal Indonesia jadi sasaran investasi perusahaan Korea Selatan
Indonesia bidik investor Jepang, percepat pembangunan infrastruktur nasional
Prabowo dorong Danantara dan Rusia biayai proyek strategis
BI guyur insentif likuiditas demi dongkrak kredit perbankan
Kadin Indonesia-Singapura perkuat kerja sama akses UMKM ke pasar ASEAN
Setengah dari pasokan minyak dunia berasal dari kawasan konflik
Neraca perdagangan Indonesia surplus $3,70 miliar hingga Juli 2026
Indonesia tawarkan 32 proyek strategis senilai Rp207 triliun ke investor Jepang
Penyaluran biodiesel B50 di Indonesia capai 80 persen, targetkan 100 persen pada Oktober