Di tengah ancaman cuaca kering yang dipicu fenomena El Niño, para petani di Indonesia mulai mempercepat jadwal tanam padi mereka untuk menghindari potensi penurunan produksi pangan.
Di Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat, petani Teguh Basuki mengaku tengah berupaya mempercepat musim tanam di lahannya seluas lima hektare. Ia menyesuaikan pola tanam di tengah cuaca yang semakin tidak menentu akibat kekeringan yang diperkirakan berlangsung lebih lama dari biasanya.
“Bertani itu soal beradaptasi dan mencari solusi,” kata Teguh kepada Reuters, seraya tetap bekerja di sawah yang membentang di wilayah tersebut.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian di bawah Menteri Pertanian Amran Sulaiman telah meminta pemerintah daerah untuk mengoptimalkan irigasi serta mempercepat proses tanam di wilayah rawan kekeringan. Petani juga didorong menggunakan benih tahan kering guna menjaga stabilitas produksi beras.
Sementara itu, pejabat kementerian Muhammad Agung Sunusi menyebut pemerintah meminta kepala daerah memastikan percepatan siklus tanam, termasuk memperpendek jeda persiapan lahan dari sekitar 25 hari menjadi dua pekan setelah panen.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BMKG melaporkan sejumlah wilayah di Jawa dan pulau lain telah mengalami periode tanpa hujan lebih dari 10 hari, dengan proyeksi musim kemarau tahun ini berpotensi lebih panjang dari normal.
Di sisi lain, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras Indonesia berpotensi turun sekitar 0,35 persen pada periode Januari–Juli dibandingkan tahun sebelumnya, seiring berkurangnya area tanam.
Namun tidak semua petani mengambil langkah yang sama. Di wilayah yang sama, petani Misti memilih tidak menanam padi pada musim ketiga tahun ini. Ia menyebut suhu yang semakin panas membuat risiko gagal panen meningkat, sehingga sebagian petani mulai beralih ke komoditas lain seperti kacang hijau.
“Panasnya terlalu tinggi, petani khawatir tanaman padi tidak sampai panen,” ujar Misti kepada Reuters.












