PERANG GAZA
3 menit membaca
Israel lakukan “penyiksaan sistematis” terhadap aktivis yang ditahan: Global Sumud Flotilla
Koalisi Global Sumud Flotilla melaporkan dugaan penyiksaan terhadap Saif Abu Keshek setelah kapal bantuan kemanusiaan dicegat di perairan internasional.
Israel lakukan “penyiksaan sistematis” terhadap aktivis yang ditahan: Global Sumud Flotilla
Israel telah membebaskan semua aktivis yang ditahan dari flotila kecuali Abukeshek dan Avila. / AP

Koalisi Global Sumud Flotilla menyatakan pasukan Israel melakukan “penyiksaan sistematis” terhadap seorang aktivis asal Spanyol keturunan Palestina setelah menyita kapal-kapal yang membawa aktivis di perairan internasional saat menuju Gaza dalam misi kemanusiaan untuk menembus blokade Israel.

“Para saksi mata dari peserta memberikan kesaksian memilukan tentang teriakan Abu Keshek yang menggema di seluruh kapal saat ia mengalami penyiksaan sistematis setelah dipisahkan dari yang lain,” ujar koalisi tersebut dalam pernyataan pada Minggu.

Saif Abu Keshek dan aktivis asal Brasil, Thiago de Avila, termasuk di antara 175 aktivis yang berada di lebih dari 20 kapal yang digerebek dan dicegat pada Kamis saat dalam perjalanan menuju Gaza untuk menantang pengepungan Israel.

Para aktivis kemudian dibawa ke Israel untuk diperiksa dan kemungkinan akan diproses secara hukum, kata koalisi tersebut.

Pengadilan Israel pada Minggu memperpanjang masa penahanan mereka selama dua hari, menurut Adalah, kelompok advokasi warga Palestina di Israel.

“Setelah pencegatan ilegal terhadap 22 kapal milik Global Sumud Flotilla oleh Pasukan Pendudukan Israel (IOF) di perairan internasional kurang dari 80 mil laut di sebelah barat Pulau Kreta, Yunani, sebanyak 175 warga sipil diculik dari 21 kapal,” demikian pernyataan flotilla di situs resminya.

Koalisi tersebut menyebut para aktivis kemudian dipindahkan ke kapal Israel NAHSHON, di mana mereka “mengalami kekerasan fisik dan verbal.”

Eskalasi berbahaya dan dugaan kejahatan perang

Flotilla menggambarkan serangan tersebut sebagai “eskalasi berbahaya dan tambahan kejahatan perang” oleh militer Israel.

Disebutkan, sebanyak 36 aktivis mengalami luka-luka selama proses pencegatan dan penahanan, dan kemudian dibawa ke rumah sakit setibanya di Pelabuhan Lerapetra, Kreta selatan, tanpa merinci jenis luka yang dialami.

Kelompok tersebut juga menyatakan upaya hukum oleh sejumlah lembaga peradilan untuk mencegah pemindahan warga sipil dalam operasi yang disebut “ilegal” dari perairan teritorial Yunani tidak berhasil.

Serangan itu disebut sebagai “perpanjangan dari blokade yang diberlakukan terhadap Gaza.”

“Pasukan yang sama yang membuat penduduk kelaparan juga menyiksa warga sipil yang berupaya membawa bantuan keselamatan bagi warga Gaza,” demikian pernyataan tersebut, sembari menyerukan komunitas internasional dan pemerintah Eropa untuk menuntut pembebasan segera Abu Keshek dan Avila serta mengecam penggunaan penyiksaan dan penahanan sewenang-wenang terhadap aktivis kemanusiaan.

Dugaan penculikan warga asing

Koalisi itu juga mendesak adanya pertanggungjawaban atas dugaan pelanggaran hukum internasional oleh Israel, termasuk penyiksaan, penahanan ilegal, dan serangan terhadap warga sipil di perairan internasional, serta meminta penyelidikan atas peran otoritas Yunani yang mengizinkan kapal Israel yang membawa para tahanan berangkat.

Hingga Jumat, Israel telah membebaskan seluruh aktivis yang ditahan dari flotilla kecuali Abu Keshek dan Avila, menurut Kementerian Luar Negeri Israel, yang menyebut keduanya masih akan diperiksa.

Adalah menyatakan para aktivis telah “dipindahkan secara ilegal ke wilayah Israel untuk diinterogasi,” dan menyebut tindakan tersebut sebagai “penculikan warga negara asing dari perairan internasional di dekat perairan teritorial Yunani.”

Israel telah memberlakukan blokade terhadap Gaza sejak 2007. Sekitar 1,5 juta warga Palestina di wilayah tersebut telah mengungsi akibat kehancuran luas selama perang yang dimulai pada 8 Oktober 2023, yang menewaskan lebih dari 72.000 orang dan melukai lebih dari 172.000 lainnya, menurut data Palestina.

Wilayah tersebut kini menghadapi krisis kemanusiaan dan kesehatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan kerusakan luas pada infrastruktur, termasuk rumah sakit dan fasilitas kesehatan.

SUMBER:TRT World & Agencies
Jelajahi
Prabowo dan Abbas berbicara via telepon, Indonesia kembali tegaskan dukungan untuk Palestina
Pemukim ilegal Israel hancurkan satu-satunya jalur pasokan air ke Umm Safa di Tepi Barat
Serangan Israel di Gaza tewaskan 3 warga Palestina dalam pelanggaran gencatan senjata baru
Pemukim Israel bakar kendaraan dan serang masjid di Tepi Barat yang diduduki
Lebih banyak warga Palestina tewas di Tepi Barat sejak 2023 dibandingkan 17 tahun terakhir: Oxfam
Survey: Dunia tidak percaya Netanyahu
Israel mengalokasikan $51 juta untuk 69 permukiman ilegal di Tepi Barat: lembaga pengawas
Bencana yang berlanjut: Israel kembali blokir Gaza, memperdalam krisis kemanusiaan di enklave yang hancur
Israel kembali membunuh 8 warga Palestina di Gaza, menyerang setiap hari meskipun ada gencatan
Pasukan Israel melindungi penduduk ilegal selama serangan terhadap Palestina: Penyelidikan PBB
Serangan Israel di Gaza tewaskan sedikitnya 10 warga Palestina, 29 terluka meski gencatan senjata
Mengapa negara-negara Eropa dan Asia mengabaikan genosida di Gaza demi memborong senjata Israel
Israel menyetujui insentif pajak untuk permukiman ilegal di Tepi Barat yang diduduki
Mesin perang digital Israel dan bahaya propaganda yang salah sasaran
Federasi Palestina serukan tindakan internasional usai Israel menahan dua pemain timnas wanita
Mayoritas warga Indonesia dan 35 negara lain memiliki pandangan negatif terhadap Israel: survei
Israel, Netanyahu menghadapi opini publik global yang tidak menguntungkan
Indonesia kecam rencana Israel kuasai 70 persen Gaza
Surat suara dan peluru: Netanyahuisme adalah ideologi yang memicu perang tak berkesudahan Israel
Serangan Israel tewaskan sembilan orang di Gaza saat pelanggaran gencatan senjata terus berlanjut