Pasar saham Indonesia mencatatkan rekor penurunan harian terburuk dalam hampir tiga dekade terakhir pada perdagangan Jumat (16/10). Langkah drastis ini dipicu oleh pernyataan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menilai Indonesia tidak lagi layak menyandang status emerging market (pasar berkembang).
Ancaman ini berpotensi memicu gelombang penarikan modal asing (capital outflow) hingga miliaran dolar AS dari perekonomian terbesar di Asia Tenggara tersebut.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat anjlok hingga 11,4 persen ke level terendahnya sejak awal November 2020. Penurunan ini menjadi pergerakan harian terburuk sejak krisis moneter pada Januari 1998. Pada awal sesi perdagangan pagi, IHSG bahkan langsung dibuka merosot 8 persen hingga memicu pembekuan sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit oleh pihak bursa.
Sektor perbankan raksasa tanah air menjadi penekan utama IHSG. Tiga saham bank berkapitalisasi besar, yaitu PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), masing-masing terkoreksi tajam hingga mendekati batas bawah 15 persen.
Tekanan berat di bursa saham berimbas langsung pada nilai tukar rupiah. Nilai mata uang garuda melemah hingga menyentuh level Rp18.070 per dolar AS—tingkat terendah sejak akhir Juli lalu dan mendekati rekor terendah sepanjang sejarah di posisi Rp18.190 per dolar AS.
Ancaman status 'standalone' dan dampak modal asing
Secara mengejutkan, MSCI menyatakan berencana memasukkan Indonesia ke dalam jalur standalone market (pasar berdiri sendiri). Status ini tergolong lebih buruk dibandingkan kategori frontier market (pasar perintis) yang sempat diperingatkan sebelumnya. MSCI juga berniat menghapus seluruh saham Indonesia dari portofolio indeks global yang menjadi acuan investor dunia.
Jika keputusan ini resmi diberlakukan, Indonesia akan bergabung dalam kelompok pasar standalone bersama Argentina, Lebanon, Palestina, dan Ukraina. Indonesia juga bakal menjadi satu-satunya negara di kawasan Asia-Pasifik yang masuk dalam klasifikasi tersebut, sekaligus menjadi perekonomian terbesar di kelompok itu dengan ukuran ekonomi dua kali lipat lebih besar dari Argentina.
Status standalone secara otomatis akan mengeksklusi pasar saham Indonesia dari berbagai indeks acuan global yang dilacak oleh dana investasi pasif berskala besar, sehingga memaksa manajer investasi internasional melakukan aksi jual masif. Dengan koreksi tajam pada sesi Jumat, IHSG tercatat telah kehilangan nilainya hingga hampir 40 persen sepanjang tahun ini, menjadikannya pasar saham dengan kinerja terburuk di dunia.
"Prioritas mendesak bagi Indonesia saat ini adalah menunjukkan perbaikan terukur pada transparansi pasar dan penegakan regulasi, bukan sekadar mengumumkan rencana reformasi tambahan," tegas Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede.
"Mencegah penurunan status adalah pencapaian jangka pendek yang sangat penting, namun tujuan utamanya adalah membangun kembali kredibilitas Indonesia sebagai tujuan investasi internasional jangka panjang yang transparan, teratur, dan dapat diandalkan," tambahnya.
Sementara itu, pergerakan bursa di kawasan Asia Tenggara cenderung bervariasi. Indeks Straits Times (STI) Singapura menguat 0,8 persen dan indeks PSEi Filipina melonjak lebih dari 2 persen. Sebaliknya, indeks KLCI Malaysia terkikis 0,7 persen di tengah rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III Malaysia yang tercatat tumbuh 5,3 persen secara tahunan (year-on-year). Bursa saham Thailand ditutup karena libur nasional.



















