Indonesia perkuat produksi pangan di tengah tantangan iklim dan geopolitik global
Pemerintah juga mengembangkan padi gogo, yakni padi yang dibudidayakan di lahan kering dan mampu tumbuh dengan kebutuhan air yang lebih sedikit dibandingkan padi sawah.
Pemerintah Indonesia menyatakan terus menjaga stabilitas produksi pangan nasional di tengah potensi kekeringan akibat fenomena El Nino serta meningkatnya ketegangan geopolitik global yang dapat memengaruhi rantai pasok pangan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah secara intensif memantau kondisi produksi dan cadangan pangan untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
“Pangan kita siap menghadapi berbagai kondisi terburuk, mulai dari El Nino, La Nina, hingga dinamika geopolitik global. Pertanian kita insya Allah tetap aman,” tegasnya.
Berdasarkan data terbaru hingga awal Maret 2026, pemerintah menyatakan ketersediaan pangan nasional, khususnya beras, berada dalam kondisi aman.
Produksi beras tercatat berkisar antara 2,6 juta hingga 5,7 juta ton per bulan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata kebutuhan nasional yang sekitar 2,59 juta ton per bulan.
Secara keseluruhan, stok beras nasional saat ini mencapai sekitar 27,99 juta ton. Jumlah tersebut terdiri dari cadangan Perum Bulog sebesar 3,76 juta ton, stok yang berada di masyarakat sekitar 12,50 juta ton, serta padi siap panen sekitar 11,73 juta ton.
Ancaman kekeringan
Untuk menghadapi potensi kekeringan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi, salah satunya melalui program pompanisasi pada lahan pertanian. Program tersebut sebelumnya telah menjangkau sekitar 1,2 juta hektare lahan dan pada tahun ini direncanakan diperluas hingga tambahan 1 juta hektare.
Dalam upaya memperkuat ketahanan produksi menghadapi perubahan iklim, Mentan Amran menjelaskan Indonesia telah mengembangkan berbagai varietas unggul spesifik lokasi yang adaptif terhadap kondisi lahan serta tetap memiliki produktivitas tinggi.
Pemerintah juga mengembangkan padi gogo, yakni padi yang dibudidayakan di lahan kering dan mampu tumbuh dengan kebutuhan air yang lebih sedikit dibandingkan padi sawah.
Di luar komoditas beras, produksi pangan lain seperti ayam dan telur juga berada dalam kondisi surplus. Ketersediaan pupuk juga dipastikan aman dengan harga yang tercatat turun sekitar 20 persen sehingga mendorong petani untuk terus meningkatkan produksi.