Amazon bertaruh pada kedaulatan data Uni Eropa lewat ekspansi layanan cloud
Amazon Web Services berencana memperluas “sovereign cloud” miliknya di Eropa ke Belgia, Belanda, dan Portugal, seiring dorongan para pemimpin Uni Eropa untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi Amerika Serikat dan melindungi data sensitif.
Divisi komputasi awan Amazon menyatakan akan memperluas layanan “sovereign cloud” mereka ke seluruh Uni Eropa, dengan harapan meraup peluang di tengah upaya pemerintah-pemerintah Eropa untuk melindungi data warganya.
Amazon Web Services (AWS) akan memperluas “jejak” fisiknya ke Belgia, Belanda, dan Portugal, demikian pernyataan perusahaan pada Kamis, melengkapi fasilitas yang sudah ada di wilayah timur Jerman.
Ekspansi tersebut, menurut AWS, akan “memberikan lebih banyak pilihan bagi organisasi untuk menjalankan beban kerja di cloud dengan tingkat kedaulatan dan kemandirian operasional tertinggi”.
Kekhawatiran atas minimnya perusahaan teknologi Eropa yang mampu menyaingi raksasa AS mendorong para pemimpin Uni Eropa dalam beberapa tahun terakhir untuk menggaungkan konsep “kedaulatan digital”, sekaligus menyerukan pengurangan ketergantungan benua itu pada teknologi Amerika.
Kekhawatiran itu kian meningkat seiring pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengambil sikap yang lebih konfrontatif terhadap para pemimpin Uni Eropa, termasuk dengan upaya untuk mencaplok wilayah Denmark, Greenland.
Undang-Undang CLOUD Act Amerika Serikat juga mewajibkan perusahaan menyerahkan data jika diminta otoritas, sehingga memperkuat tuntutan akan layanan back-end dan komputasi awan yang berjalan di atas infrastruktur Uni Eropa.
“Dengan membangun cloud yang berakar pada infrastruktur, operasi, dan tata kelola Eropa, kami memberdayakan organisasi untuk berinovasi dengan penuh keyakinan sambil tetap memegang kendali penuh atas aset digital mereka,” ujar Stephane Israel, kepala European Sovereign Cloud AWS.
Namun Harald Wehnes, profesor ilmu komputer di Universitas Wuerzburg, mengatakan kepada AFP bahwa pengumuman AWS tersebut merupakan contoh dari apa yang ia sebut sebagai “sovereignty washing”.
“CLOUD Act Amerika berarti data sensitif warga Eropa bisa berujung di tangan pemerintahan AS begitu data itu berada di perusahaan cloud Amerika, meskipun disimpan di server yang berlokasi di Eropa,” katanya.
“Jika saya menggunakan penyedia cloud Eropa, seperti IONOS, Hetzner, atau Noris Network, hal itu tidak berlaku.”
Seorang juru bicara AWS mengatakan kepada AFP bahwa pelanggan dapat mengenkripsi data yang disimpan di European Sovereign Cloud, dan karyawan AWS tidak dapat mengakses data tersebut maupun menyerahkannya kepada otoritas AS.
Para pesaing Amazon dari Amerika, termasuk Microsoft, juga menawarkan opsi penyimpanan data di Eropa. Sementara itu, raksasa perangkat lunak Jerman SAP pada September lalu mengumumkan investasi senilai US$23 miliar di bidang komputasi awan sebagai bagian dari upaya “kedaulatan data”.