Menteri Transportasi dan Infrastruktur Türkiye, Abdulkadir Uraloglu, pada 26 Maret mengumumkan bahwa Koridor Zangezur—jalur transportasi strategis yang menghubungkan Azerbaijan dengan Türkiye—diperkirakan akan mulai beroperasi dalam empat hingga lima tahun ke depan.
Koridor ini akan menciptakan jalur darat langsung dari Kars di Türkiye timur menuju wilayah eksklave Nakhchivan milik Azerbaijan. Rute tersebut kemudian akan melintasi wilayah Zangezur di Armenia sepanjang sekitar 43 kilometer sebelum terhubung ke wilayah utama Azerbaijan.
Dengan pembangunan yang sudah berjalan di Türkiye dan Nakhchivan, proyek ini menjadi langkah penting dalam memperkuat konektivitas dunia Turkik sekaligus mengintegrasikannya ke dalam Middle Corridor, jalur logistik lintas Eurasia yang menghubungkan China dan Eropa melalui Asia Tengah dan Türkiye.
Terobosan ini muncul di tengah upaya kawasan mencari alternatif dari jalur laut yang rentan mengganggu perdagangan global.
Sejak perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari, Teheran membatasi pelayaran di Selat Hormuz—jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Di saat yang sama, kelompok Houthi yang didukung Iran dan menguasai pelabuhan barat Yaman selama lebih dari satu dekade kembali meningkatkan serangan terhadap Israel.
Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran utama di Laut Merah, yang menjadi pemisah alami antara Asia dan Afrika sekaligus menangani sekitar 22 persen perdagangan kontainer global.
Dengan Terusan Suez di utara dan Selat Bab al-Mandeb di selatan, gangguan di kawasan tersebut berpotensi menghambat jalur perdagangan laut yang selama ini memangkas jarak Asia–Eropa hingga setengahnya.
Profesor hubungan internasional dari Middle East Technical University di Ankara, Oktay Tanrisever, mengatakan kepada TRT World bahwa Koridor Zangezur dapat menjadi alternatif di tengah meningkatnya ketidakpastian jalur laut strategis.
“Ketidakpastian di Selat Hormuz yang semakin meningkat dapat mendorong pengembangan koridor transportasi alternatif. Koridor Zangezur bisa menjadi salah satunya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti proyek Development Road milik Türkiye—koridor perdagangan yang direncanakan menghubungkan pelabuhan Teluk di Irak ke Eropa melalui Türkiye—sebagai opsi lain jika gangguan di Hormuz terus berlanjut.
Sementara itu, pakar geopolitik dari National Defence University Azerbaijan, Khayal Iskandarov, mengatakan kepada TRT World bahwa Türkiye berada pada posisi strategis untuk menjadi motor utama berbagai proyek kerja sama regional, mengingat pengaruhnya di Asia Tengah dan Kaukasus.
“Pembukaan Koridor Zangezur akan mengubah peta transit seluruh kawasan,” katanya.
Ia menambahkan, berbagai proyek yang didukung Türkiye seperti pipa minyak Baku-Tbilisi-Ceyhan, pipa gas Baku-Tbilisi-Erzurum, jalur kereta Baku-Tbilisi-Kars, hingga Trans-Anatolian dan Trans-Adriatic Pipeline menunjukkan rekam jejak Ankara dalam mendiversifikasi jalur distribusi dan mengurangi ketergantungan pada satu pihak.
Saat ini, pembangunan jalan raya di sisi Azerbaijan telah mencapai lebih dari 95 persen, sementara pembangunan rel kereta berada di kisaran 70–80 persen, dengan target operasional penuh pada akhir 2026.
Proyek baru seperti jalur kereta Kars-Igdir-Dilucu juga akan terhubung langsung dengan koridor tersebut, menambah kapasitas angkut hingga sekitar 15 juta ton per tahun.
“Jalur kereta ini terintegrasi dengan pelabuhan, kawasan industri, dan pusat logistik sebagai bagian dari strategi nasional,” ujarnya.
Bagi Türkiye, keuntungan yang diperoleh dinilai signifikan.
“Koridor Zangezur akan menjadi jalur transportasi darat terpendek antara Samudra Pasifik dan Atlantik, sekaligus menjadi titik pertemuan rute Utara-Selatan dan Timur-Barat,” kata Iskandarov.
Ia menyebut Türkiye berpotensi menjadi pusat logistik utama bagi arus barang dari Asia Timur, Asia Tengah, dan kawasan Kaspia menuju pasar Eropa melalui koridor ini.
Koridor tersebut juga sejalan dengan program TRACECA Uni Eropa yang bertujuan menghubungkan Eropa dan Asia Tengah melalui jalur transportasi lintas Laut Hitam, Kaukasus Selatan, dan Laut Kaspia.
Selain itu, proyek ini turut mendukung Belt and Road Initiative milik China, yang sejak 2015 telah dihubungkan dengan Middle Corridor melalui kerja sama dengan Türkiye.
Saat ini, pengiriman barang dari China melalui Asia Tengah, pelabuhan Alat di Kaspia, jalur kereta Baku-Tbilisi-Kars, hingga Türkiye memakan waktu sekitar dua minggu. Koridor Zangezur dinilai dapat memperpendek waktu tersebut sekaligus meningkatkan keandalan jalur darat.
Tantangan politik dan hukum
Meski demikian, Tanrisever menilai Türkiye secara teknis sudah cukup siap. “Türkiye telah menyelesaikan sebagian besar persiapan teknis dan infrastruktur untuk mengoperasikan sistem Zangezur-Middle Corridor dalam waktu dekat,” ujarnya.
Namun, ia menekankan bahwa hambatan utama justru bersifat politik dan hukum, termasuk nasib perjanjian damai Armenia-Azerbaijan yang terkait dengan pemilu di Armenia, serta ratifikasi kesepakatan TRIPP dan perubahan konstitusi yang direncanakan.
“Hambatan utama tampaknya bersifat politik dan legal,” katanya.
Iskandarov menambahkan, kesepakatan damai yang dimediasi Amerika Serikat pada 8 Agustus di Washington dalam kerangka TRIPP menjadi terobosan penting setelah puluhan tahun konflik.
Meski begitu, respons Rusia masih belum pasti, sementara Iran secara terbuka menentang proyek ini dan menyebutnya sebagai “Koridor Turan NATO” yang berpotensi memicu ketegangan etnis.
Jika terealisasi, koridor ini diyakini dapat menjadi batu loncatan menuju perdamaian jangka panjang di kawasan, sekaligus memperkuat kerja sama dan kepercayaan antarnegara serta memperluas perdagangan Timur-Barat.
Namun, Iskandarov mengingatkan bahwa koridor ini bukan pengganti sempurna jalur laut, mengingat sekitar 70 persen perdagangan minyak global dan sebagian besar komoditas curah masih bergantung pada jalur laut seperti Selat Hormuz dan Laut Merah.
Meski demikian, keberadaan koridor darat ini tetap penting untuk mendiversifikasi jalur distribusi, khususnya bagi barang bernilai tinggi dan sensitif terhadap waktu.
“Bagi pelaku usaha, memiliki alternatif—meski sebagian—dapat mengurangi risiko dari gangguan seperti yang terjadi di Laut Merah atau krisis di Hormuz,” ujarnya.








