BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
Pendapatan Indonesia pada Q1 2026 tumbuh dua digit, ditopang pajak dan aktivitas ekonomi
Menkeu Purbaya mengatakan bahwa dorongan utama pertumbuhan ini berasal dari penerimaan perpajakan sepanjang triwulan pertama, baik dari sisi bruto maupun neto.
Pendapatan Indonesia pada Q1 2026 tumbuh dua digit, ditopang pajak dan aktivitas ekonomi
ARSIP: Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan Republik Indonesia. Foto: Kemenkeu RI
12 jam yang lalu

Kinerja fiskal Indonesia pada awal 2026 menunjukkan penguatan yang konsisten, seiring meningkatnya aktivitas ekonomi domestik. Hingga akhir Maret 2026, pemerintah mencatat pendapatan negara sebesar Rp574,9 triliun, naik 10,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, capaian tersebut telah memenuhi sekitar 18,2 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dipatok Rp3,15 kuadriliun. 

Menurutnya, dorongan utama berasal dari penerimaan perpajakan yang tumbuh kuat sepanjang triwulan pertama, baik dari sisi bruto maupun neto. 

“Kenaikan pajak itu in line atau mengonfirmasi bahwa ekonomi betul-betul sedang mengalami perbaikan,” ujar Purbaya di Jakarta, Senin (6/4) sebagaimana dikutip oleh Antara.

TerkaitTRT Indonesia - Gejolak Timur Tengah berlanjut, Purbaya: Stabilitas ekonomi Indonesia tetap terjaga

Secara keseluruhan, penerimaan perpajakan mencapai Rp462,7 triliun atau meningkat 14,3 persen secara tahunan. Angka tersebut terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp394,8 triliun dan kepabeanan serta cukai Rp67,9 triliun.

Lonjakan paling signifikan terjadi pada Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang mencapai Rp155,6 triliun, melonjak 57,7 persen secara tahunan. 

“Artinya memang aktivitas ekonominya amat lebih sibuk dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu,” kata Menkeu menambahkan kelompok pajak lainnya tercatat Rp57,9 triliun, turun 5,7 persen.

Berbeda dengan pajak, kinerja kepabeanan dan cukai justru mengalami tekanan.

Mengutip laporan kantor berita Antara siang ini, Purbaya menjelaskan penerimaan sektor ini turun 12,6 persen menjadi Rp67,9 triliun. Penurunan terutama terjadi pada cukai yang mencapai Rp51 triliun (turun 11,2 persen) dan bea keluar Rp5,4 triliun (turun 38,9 persen). Sementara itu, bea masuk masih mencatat pertumbuhan tipis 0,9 persen menjadi Rp11,5 triliun.

Namun, Menkeu menambahkan bahwa kinerja bea masuk tetap positif berkat peningkatan nilai impor dan pergerakan nilai tukar rupiah.

Selain dari pajak, pendapatan negara juga ditopang oleh Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp112,1 triliun serta hibah senilai Rp100 miliar hingga akhir Maret tahun ini.

TerkaitTRT Indonesia - Inflasi tahunan Indonesia pada Maret 2026 capai 3,48 Persen, BPS: kenaikan harga stabil
SUMBER:TRT Indonesia & Agensi