Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat melaporkan sedikitnya 237 hektare area hutan dan lahan di wilayahnya hangus terbakar hingga Kamis (3/9). Luasnya dampak kebakaran ini dipicu oleh cuaca kering berkepanjangan akibat pengaruh fenomena El Nino.
Berdasarkan data BPBD, tercatat 168 insiden kebakaran yang tersebar di 186 kecamatan pada 21 kabupaten dan kota. Kabupaten Sumedang menjadi kawasan paling terdampak dengan catatan 22 kejadian. Beruntung, otoritas setempat mengonfirmasi tidak ada korban jiwa ataupun warga yang mengalami luka-luka.
Lonjakan karhutla di Jawa Barat merupakan bagian dari krisis kebakaran lahan yang tengah melanda berbagai penjuru Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat sekitar 202.000 hektare lahan telah terbakar di tingkat nasional hingga akhir Juli, dengan hampir 95.000 hektare di antaranya musnah hanya dalam kurun satu bulan tersebut.
Kondisi cuaca ekstrem dan kepungan asap tebal ini juga mulai berdampak fatal terhadap fauna endemik Indonesia.

Di tempat terpisah, seekor orang utan jantan dewasa ditemukan mati di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada Minggu lalu. Primata dilindungi tersebut dilaporkan mengalami gangguan pernapasan parah setelah habitat aslinya terselimuti kabut asap tebal selama berhari-hari, sebagaimana diwartakan Tempo.
Pemeriksaan medis terhadap bangkai satwa tersebut menunjukkan indikasi kuat akibat paparan polusi udara dari kebakaran hutan.
"Nekropsi bangkai satwa menunjukkan perubahan patologis pada beberapa organ, terutama jantung, ginjal, dan paru-paru, yang diduga berkaitan dengan paparan asap," tutur Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane.
Pemerintah daerah bersama aparat gabungan terus meningkatkan kesiapsiagaan di titik-titik rawan serta mengimbau masyarakat untuk menghindari praktik pembakaran dalam pembukaan lahan pertanian.




















