BISNIS DAN TEKNOLOGI
3 menit membaca
Dukung ketahanan pangan Indo-Pasifik, ekspor 47.250 ton pupuk Indonesia resmi mendarat di Australia
Kapal pembawa 47.250 ton pupuk urea produksi PT Pupuk Indonesia resmi tiba di Pelabuhan Brisbane. Pengiriman ini menandai dimulainya kerja sama pasokan pupuk jangka panjang berskema G to G antara RI dan Australia.
Dukung ketahanan pangan Indo-Pasifik, ekspor 47.250 ton pupuk Indonesia resmi mendarat di Australia
Indonesia Ekspor Urea ke Australia, Presiden Prabowo Terima Apresiasi PM Albanese. Foto: X/KemensetnegRI

Hubungan dagang antara Indonesia dan Australia mencatatkan tonggak sejarah baru di sektor pertanian. Sebanyak 47.250 ton pupuk urea produksi PT Pupuk Indonesia yang dikirim langsung dari Bontang, Kalimantan Timur, menggunakan Kapal Madi Luna sejak Mei lalu, resmi bersandar di Pelabuhan Brisbane, Australia, Senin (22/6).

Pengiriman perdana ini merupakan bagian dari kesepakatan kontrak jangka panjang dengan total volume mencapai 250 ribu ton pupuk yang diatur melalui skema antarpemerintah (Government to Government/G to G). Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, yang hadir langsung di Pelabuhan Brisbane, menjelaskan bahwa pengiriman pupuk ke depan akan dilakukan secara bertahap hingga Desember 2026.

"Australia dari waktu ke waktu selalu jadi pasar utamanya pupuk urea Indonesia. Tapi pengiriman ini spesial, karena diatur melalui skema G to G dan melalui kontrak jangka panjang," ujar Rahmad dalam laporan yang dikutip dari Antara.

Rahmad menambahkan, selain memperkuat stabilitas rantai pasok pupuk di kawasan Indo-Pasifik, langkah strategis ini memantapkan posisi Indonesia sebagai stabilisator pasokan komoditas penting regional sekaligus menyokong diplomasi pangan nasional.

TerkaitTRT Indonesia - Prabowo dan Albanese gelar panggilan telepon, bahas kerja sama pupuk, energi hingga isu Timteng

Sinergi ekonomi lewat IA-CEPA

Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar RI untuk Australia, Siswo Pramono, menggarisbawahi bahwa kerja sama komoditas ini menjadi bukti nyata semakin eratnya hubungan bilateral kedua negara, terutama pasca-implementasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA).

Dalam lima tahun terakhir, nilai perdagangan bilateral kedua negara melonjak signifikan dari semula sekitar 14 miliar dolar Australia menjadi 32 miliar dolar Australia. Siswo menilai hubungan dagang ini sangat simetris dan saling menguntungkan (win-win).

"Indonesia yang kuat menguntungkan Australia dan Australia yang kuat menguntungkan Indonesia," tegas Siswo. Indonesia sendiri selama ini mengandalkan impor komoditas pertanian dari Australia, seperti gandum dan kapas, yang menjadi bahan baku vital bagi industri dalam negeri.

Beri kepastian bagi petani Australia

Respons positif juga datang dari pihak Canberra. Asisten Sekretaris Pertama Departemen Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia, Amanda Calmers, menyatakan bahwa kehadiran pasokan pupuk dari Indonesia memberikan kepastian di tingkat hulu pertanian bagi para petani lokal di tengah ketidakpastian global.

Menurut rincian dari mitra operator Pupuk Indonesia di Australia, Incitec Pivot Fertilisers, puluhan ribu ton urea ini akan segera didistribusikan untuk menggenjot produksi komoditas kapas, gandum, buah-buahan, hingga sayuran di wilayah Queensland dan bagian utara New South Wales, sebelum sebagian lainnya dikirim menuju Geelong.

Chief Operating Officer Incitec Pivot Fertilisers, Scott Bowman, menyebutkan adanya siklus rantai pasok yang menarik dari kerja sama ini. "Hasil pertanian yang ditanam Australia nantinya akan kembali menemukan jalannya ke Indonesia," pungkas Bowman, menekankan pentingnya sinergi kedua negara tetangga dalam menjaga ketersediaan pangan regional.

TerkaitTRT Indonesia - Ekspor pupuk Indonesia ke Australia mencapai Rp7 triliun, Mentan targetkan lebih pasar dunia
SUMBER:TRT Indonesia