Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan mencatat 2.676 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayahnya hingga 10 September 2026. Bencana ini menempatkan 15 kabupaten dan kota dalam status zona merah rawan tinggi.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengungkapkan bahwa eskalasi karhutla telah menyebar ke hampir seluruh daerah. Hanya dua wilayah yang sejauh ini masih berada di luar zona merah.
"Untuk di Sumsel ada 2.676 kejadian karhutla. Ada 15 daerah yang masuk dalam kategori daerah dengan tingkat kerawanan tinggi. Hanya Pagar Alam dan Empat Lawang yang belum masuk karena kejadiannya di bawah 30 kasus," terang Sudirman di Palembang, Senin (14/9).
Berdasarkan pemetaan data BPBD Sumsel, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menduduki posisi tertinggi dengan 459 kejadian karhutla. Posisi berikutnya disusul oleh Musi Banyuasin (Muba) dengan 333 kejadian, Ogan Ilir sebanyak 294 kejadian, Banyuasin 273 kejadian, serta Muara Enim dengan 244 kejadian.
Sebaran kasus lainnya tercatat di Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) sebanyak 181 kejadian, Prabumulih 168 kejadian, Ogan Komering Ulu (OKU) 103 kejadian, Musi Rawas Utara (Muratara) 83 kejadian, OKU Timur 79 kejadian, Musi Rawas 75 kejadian, dan Lahat 70 kejadian. Sementara OKU Selatan dan Lubuklinggau masing-masing mengonfirmasi 35 kejadian.
Sudirman menegaskan, tingginya angka kebakaran ini membutuhkan kesiapsiagaan ekstra mengingat Sumsel masih berada di puncak musim kemarau sepanjang September. Keringnya vegetasi meningkatkan risiko pemandangan titik api yang meluas secara cepat.
BPBD Sumsel meminta masyarakat dan pemangku kepentingan untuk memperketat pengawasan di lapangan, serta menghentikan total praktik pembukaan lahan dengan metode pembakaran (slash and burn).





















