Dua pasukan penjaga perdamaian PBB tewas dalam ledakan kedua di Lebanon selatan
Misi PBB menyelidiki insiden mematikan di tengah eskalasi invasi Israel di Lebanon selatan, sementara komunitas internasional mendesak investigasi atas serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian.
Misi penjaga perdamaian PBB di Lebanon menyatakan dua personelnya tewas di wilayah selatan negara itu, menandai insiden mematikan kedua dalam 24 jam di tengah invasi darat Israel yang terus meningkat.
Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (United Nations Interim Force in Lebanon/UNIFIL) menyebut dua penjaga perdamaian asal Indonesia tewas “akibat ledakan yang belum diketahui penyebabnya yang menghancurkan kendaraan mereka.”
Dua personel lainnya mengalami luka-luka, satu di antaranya dalam kondisi serius.
Insiden ini terjadi sehari setelah satu penjaga perdamaian Indonesia lainnya tewas dan tiga orang terluka akibat proyektil yang meledak di dekat posisi UNIFIL.
UNIFIL menyatakan telah meluncurkan penyelidikan, sementara Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian, Jean-Pierre Lacroix, mengecam insiden tersebut dan menegaskan bahwa “semua tindakan yang membahayakan pasukan penjaga perdamaian harus dihentikan.”
Presiden Lebanon Joseph Aoun juga mengecam “penargetan terhadap pasukan penjaga perdamaian” dan telah melakukan komunikasi internasional untuk mendorong upaya perundingan.
Koordinator Khusus PBB untuk Lebanon, Jeanine Hennis-Plasschaert, menyerukan “gencatan senjata segera untuk menghentikan kehancuran.”
Reaksi internasional
Sebagai bentuk kecaman, Menteri Luar Negeri Prancis meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB menyusul insiden yang disebutnya serius terhadap pasukan UNIFIL.
Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto juga menyatakan memantau situasi dengan “keprihatinan mendalam,” seraya menegaskan bahwa “menyerang kontingen PBB tidak dapat ditoleransi maupun diterima.”
Ia menambahkan, pasukan PBB memiliki peran penting dalam menjaga perdamaian, mencegah eskalasi, serta melindungi warga sipil, dan penargetan terhadap mereka sama saja dengan serangan terhadap komunitas internasional.
Kementerian Luar Negeri Swiss turut menyampaikan “keprihatinan mendalam” dan kembali menegaskan dukungannya terhadap UNIFIL.