Opini
TÜRKİYE
6 menit membaca
Upaya Türkiye mewujudkan perdamaian di tengah gejolak global
Pendekatan Türkiye dalam membangun perdamaian telah menggabungkan mediasi, keterlibatan kemanusiaan, dan dialog berkelanjutan dengan aktor-aktor yang bersaing, memungkinkan Ankara untuk memainkan peran unik dalam konflik mulai dari Ukraina hingga Somalia.
Upaya Türkiye mewujudkan perdamaian di tengah gejolak global
Menteri Luar Negeri Türkiye Hakan Fidan (tengah) memimpin putaran ketiga perundingan Rusia-Ukraina yang kembali digelar. / TRT World

Kejadian itu berlangsung pada puncak perang di Ukraina.

Politikus saling melontarkan tuduhan, sementara para ahli memperingatkan ancaman krisis pangan global. Lalu, di Istanbul, sesuatu yang tidak diduga banyak orang terjadi: perwakilan Rusia dan Ukraina duduk bersama di meja perundingan yang sama.

Tak ada yang mengharapkan perdamaian datang dalam semalam. Tak ada yang mengharapkan senjata langsung terdiam.

Namun melalui mediasi Türkiye dan PBB, sebuah kesepakatan tercapai untuk melanjutkan ekspor gandum dari pelabuhan Ukraina, tempat jutaan ton gandum tertahan.

Ini bukanlah kemenangan diplomatik yang spektakuler. Tidak ada jabat tangan bersejarah di bawah kilat kamera, ataupun pernyataan besar yang mampu mengubah dunia dalam semalam. Sebaliknya, yang muncul adalah sesuatu yang lebih nyata: makanan.

Kapal-kapal bermuatan gandum berlayar ke negara-negara yang sangat membutuhkan. Keluarga-keluarga di Afrika, Timur Tengah, dan tempat lain—orang-orang yang tidak pernah mendengar perundingan Istanbul—dapat menyajikan roti di meja mereka karena diplomasi berhasil di tempat yang bagi banyak orang tidak mungkin.

Episode ini banyak memberi gambaran tentang peran Türkiye di dunia modern. Seringkali, upaya perdamaian negaranya tidak ditandai oleh gestur besar atau kampanye ideologis global.

Sebaliknya, upaya itu berakar pada diplomasi yang sabar: mempertahankan dialog ketika pihak lain memutuskan hubungan dan menjaga pintu tetap terbuka ketika pihak lain telah lama menutupnya.

Türkiye tidak memilih tetangganya. Di selatan terletak Suriah, yang telah menanggung lebih dari satu dekade perang. Di timur ada Irak dan Iran. Di seberang Laut Hitam ada Rusia. Di seberang Laut Aegea ada Yunani. Di luar itu terdapat Balkan, Kaukasus, dan Mediterania Timur—wilayah-wilayah di mana perdamaian abadi jarang terjamin.

Ketika krisis meletus di kawasan-kawasan ini, dampaknya tidak tetap jauh. Pengungsi tiba di perbatasan Türkiye. Rute perdagangan terganggu. Pasokan energi terancam. Risiko keamanan meningkat.

Geografi tidak menentukan takdir, tetapi ia membentuk realitas kehidupan sehari-hari. Inilah sebabnya para pemimpin Türkiye tidak pernah memandang stabilitas regional sekadar sebagai tujuan kebijakan luar negeri. Perdamaian di sekitar Türkiye bukan sekadar diinginkan—itu adalah kebutuhan yang vital.

Pada saat yang sama, posisi ini memberi Ankara keuntungan yang unik. Melalui keanggotaannya di NATO serta ikatan historis, kultural, dan ekonomi di berbagai kawasan, Türkiye memiliki kapabilitas diplomatik yang sedikit negara lain miliki.

Negara ini dapat mempertemukan pihak-pihak yang seringkali bahkan enggan saling berbicara. Dan itu bukan pencapaian kecil.

Jika ada benang merah dalam kebijakan luar negeri Türkiye, inilah: Türkiye menjaga dialog dengan aktor-aktor yang sering ditolak untuk diajak bicara oleh negara lain.

Ankara mendukung integritas teritorial Ukraina sambil mempertahankan saluran komunikasi terbuka dengan Moskow.

Sebagai sekutu penting NATO, Türkiye terus berhubungan dengan Rusia. Ia bekerja sama dengan pemerintah, kelompok oposisi, kekuatan regional, dan organisasi internasional dalam berbagai konflik.

Para pengkritik menggambarkan pendekatan ini sebagai tidak konsisten atau upaya untuk mendapatkan keuntungan dari dua sisi. Namun dari perspektif seorang mediator, logikanya sederhana: jika Anda menolak berbicara dengan satu pihak, Anda tidak bisa membantu kedua pihak menemukan titik temu.

Negosiasi perdamaian tidak dilakukan di antara teman. Negosiasi itu berlangsung antara lawan.

Itu memerlukan seorang mediator—seseorang yang kedua pihak bersedia mentolerirnya dan, idealnya, mempercayainya. Türkiye sering berupaya memainkan peran tersebut.

Apakah semua inisiatifnya berhasil? Tentu tidak. Diplomasi jarang lurus dan mudah. Penuh jalan buntu, kekecewaan, dan proses panjang yang sulit.

Namun menjaga saluran komunikasi—bahkan ketika itu merepotkan atau mengundang kritik—memiliki nilai. Di dunia yang semakin terpolarisasi saat ini, sikap semacam itu juga semakin langka.

Di luar meja perundingan

Kontribusi Türkiye terhadap pembangunan perdamaian melampaui diplomasi. Personel militer Türkiye telah berpartisipasi dalam lebih dari 30 misi penjaga perdamaian PBB dan operasi stabilisasi internasional lainnya.

Bosnia dan Kosovo merupakan contoh penting. Unit-unit Türkiye menjadi bagian dari upaya internasional untuk mengembalikan kehidupan normal setelah konflik yang menghancurkan komunitas, memisahkan keluarga, dan menggusur jutaan orang. Mereka berkontribusi pada proyek rekonstruksi, mendukung inisiatif kemanusiaan, dan membantu mencegah kembalinya kekerasan.

Somalia memberikan contoh lain. Sementara banyak negara memandang negara itu terutama dari lensa keamanan, Türkiye mengadopsi pendekatan yang lebih luas. Ia membangun rumah sakit, memulai proyek infrastruktur, memperluas bantuan kemanusiaan, dan mengembangkan kerja sama keamanan.

Satu detail kecil namun mengungkapkan filosofi ini. Duta Besar Türkiye untuk Mogadishu memilih tinggal bukan di komplek diplomatik yang dipertahankan ketat, melainkan di kota itu sendiri, di antara rakyat.

Sekilas hal itu mungkin tampak sepele. Namun itu mencerminkan inti pendekatan Türkiye: sulit membantu orang dari kejauhan.

Perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang. Itu juga kesediaan untuk hadir.

Orang-orang Suriah yang melarikan diri dari negara mereka saat perang saudara tidak membawa konsep geopolitik atau agenda politik bersama mereka. Mereka membawa anak-anak, obat-obatan, foto keluarga, dan barang lain yang dapat dibawa sebelum meninggalkan kehidupan lama mereka.

Banyak dari mereka mencari keselamatan di Türkiye.

Negara itu telah menampung lebih dari 3,6 juta pengungsi Suriah terdaftar, bersama ratusan ribu orang dari Afghanistan, Irak, dan tempat lain, menjadikannya negara dengan jumlah pengungsi terbanyak di dunia.

Tekanan pada sekolah, rumah sakit, pasar perumahan, dan komunitas lokal sangat besar. Ketegangan politik domestik meningkat, dan perdebatan publik memanas. Namun Türkiye terus membuka pintunya.

Dimensi kebijakan Türkiye ini jarang menonjol dalam diskusi tentang perdamaian. Percakapan tersebut cenderung fokus pada gencatan senjata, pertemuan puncak, dan operasi militer.

Tetapi perdamaian juga bisa berarti sebuah keluarga yang lolos dari kekerasan. Bisa berarti seorang anak duduk di dalam kelas ketimbang hidup di zona perang. Bisa berarti seorang pengungsi menerima perawatan medis ketimbang ditolak di perbatasan.

Respons Türkiye tidak tanpa tantangan—tidak ada negara yang bisa mengelola migrasi dalam skala seperti itu tanpa kesulitan. Namun demikian, upaya itu merupakan salah satu komitmen kemanusiaan terbesar yang pernah dilakukan oleh sebuah negara di abad ke-21.

Kebijakan perdamaian Türkiye

Kebijakan perdamaian Türkiye harus dinilai melalui tindakannya.

Ketika jutaan ton gandum terdampar dan harga pangan naik di seluruh dunia, Türkiye membantu memfasilitasi ekspornya.

Ketika jutaan orang tak punya tempat pergi, Türkiye menawarkan perlindungan. Ketika komunikasi antara pihak yang berperang runtuh, Türkiye sering menjadi salah satu dari sedikit negara yang mampu menjaga kontak dengan kedua belah pihak.

Tak ada dari ini yang menjamin perdamaian. Tidak ada negara yang memiliki kekuatan itu.

Tetapi hal-hal tersebut mencerminkan pilihan yang konsisten: melanjutkan dialog ketika konfrontasi tampak lebih mudah, memikul beban yang dihindari orang lain, dan tetap terlibat ketika menarik diri akan terasa lebih nyaman.

Perdamaian jarang dibangun oleh negara yang ingin menyenangkan semua pihak. Lebih sering, perdamaian dibangun oleh mereka yang bersedia berbicara dengan semua pihak.

Itulah peran yang berupaya dimainkan Türkiye—tidak sempurna, tetapi gigih.

Di dunia yang semakin ditandai oleh persaingan, ketidakpercayaan, dan krisis, negara-negara yang mampu menjembatani jurang antara lawan akan menjadi semakin penting.

Mungkin warisan terbesar dari upaya pembangunan perdamaian Türkiye tidak terletak pada satu kesepakatan atau pertemuan puncak, melainkan pada tugas yang lebih tak terlihat namun penting: menjaga agar jembatan-jembatan itu tidak runtuh.

Artikel ini pertama kali dipublikasikan di TRT Russian.

SUMBER:TRT World