IKLIM
2 menit membaca
Kementan andalkan metode AWD untuk hemat air hadapi El Nino ekstrem
Teknik pengairan hemat air hingga 20 persen diterapkan pemerintah untuk menjaga produksi padi di tengah ancaman “Godzilla El Nino” yang berpotensi memicu kekeringan panjang.
Kementan andalkan metode AWD untuk hemat air hadapi El Nino ekstrem
Alternate Wetting Drying (AWD). Foto: Sylvera
16 jam yang lalu

Kementerian Pertanian (Kementan) mulai menerapkan metode Alternate Wetting and Drying (AWD) sebagai strategi menghadapi potensi El Nino ekstrem. Teknik ini diklaim mampu menghemat penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa mengurangi produktivitas padi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan efisiensi air menjadi kunci di tengah musim kemarau yang semakin tidak menentu akibat perubahan iklim.

“Metode AWD mampu mengurangi penggunaan air irigasi hingga 20 persen tanpa menurunkan produktivitas padi,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta.

Metode ini merupakan bagian dari upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, dengan fokus pada pengelolaan sumber daya air yang semakin terbatas. Melalui pengaturan air yang lebih terukur, tanaman tetap dapat tumbuh optimal meski dalam kondisi kekurangan air.

Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan Fadjry Djufry menjelaskan, AWD merupakan teknologi yang dikembangkan oleh International Rice Research Institute pada 2009 dan mulai diadopsi di Indonesia sejak 2013.

Berdasarkan hasil uji coba selama beberapa musim tanam, teknik ini terbukti mampu menekan kelangkaan air di lahan sawah sekaligus meningkatkan efisiensi irigasi hingga 17–20 persen. Selain itu, metode ini juga dinilai memberi manfaat lingkungan, termasuk memperbaiki kondisi tanah dan menekan emisi gas rumah kaca.

Secara teknis, AWD dilakukan dengan mengatur siklus pengairan berdasarkan kelembapan tanah, sehingga sawah tidak selalu dalam kondisi tergenang. Setelah fase awal penggenangan, air dibiarkan surut hingga batas tertentu sebelum dialirkan kembali.

Analis BRMP Lingkungan Pertanian Kementan Ali Pramono menjelaskan pemantauan dilakukan menggunakan alat sederhana berupa pipa paralon berlubang yang ditanam di lahan untuk mengukur kedalaman air.

“Pengairan kembali umumnya dilakukan saat muka air turun sekitar 10–15 cm di bawah permukaan tanah, lalu air diberikan kembali secara terbatas,” ujarnya.

Siklus ini dilakukan berulang dengan menyesuaikan kondisi cuaca dan fase pertumbuhan tanaman, terutama pada tahap krusial seperti pemupukan hingga masa berbunga.

Pemerintah menilai penerapan AWD menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan produksi padi di tengah ancaman kekeringan, sekaligus mendukung praktik pertanian berkelanjutan di Indonesia.

SUMBER:TRT Indonesia