Racun dalam darah: Perang Israel membunuh pasien cuci darah di Gaza
Penghancuran sistem kesehatan Gaza oleh Israel dan blokade yang berlangsung menjadi vonis mati bagi pasien yang membutuhkan cuci darah.
Kematian mereka termasuk yang paling sunyi dalam perang Israel di Gaza—tanpa ledakan, tanpa reruntuhan. Namun jumlahnya mencolok.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa lebih dari 40 persen pasien cuci darah di Gaza telah meninggal sejak Oktober 2023 akibat serangan Israel terhadap fasilitas kesehatan atau karena tidak adanya akses terhadap obat-obatan dan peralatan medis, yang diperparah oleh blokade Israel.
Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, dalam konferensi pers pada Senin, menyatakan bahwa serangan Israel yang terus berlanjut telah membuat infrastruktur kesehatan Gaza lumpuh total.
Lebih dari 400 pasien—sekitar 40 persen dari seluruh kasus cuci darah di wilayah itu—meninggal karena tidak mendapatkan perawatan yang memadai, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Petugas medis di Gaza melaporkan bahwa militer Israel telah menghancurkan Pusat Cuci Darah Noura Al-Kaabi, satu-satunya fasilitas layanan cuci darah bagi pasien ginjal di Gaza utara.
“Penghancuran pusat ini adalah pukulan mematikan bagi sistem kesehatan,” ujar seorang tenaga medis, yang memperingatkan dampak buruk terhadap pasien yang masih bertahan.
“Ini adalah bencana dengan konsekuensi yang belum sepenuhnya bisa kita pahami.”
Enam dari tujuh pusat cuci darah khusus di Gaza telah dihancurkan selama perang, ungkap Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) awal tahun ini.
Perang genosida Israel di Gaza telah menghancurkan 78 dari 140 mesin cuci darah.
“Kelangkaan alat ini makin parah karena stok obat-obatan untuk ginjal benar-benar habis,” kata WHO.
Apa itu cuci darah
Ginjal berfungsi menyaring darah dan membuang racun. Jika ginjal tidak bekerja dengan baik, seperti pada penyakit ginjal kronis, racun akan menumpuk dalam tubuh dan bisa berakibat fatal.
Mesin cuci darah bekerja sebagai ginjal buatan.
“Penundaan cuci darah menyebabkan peningkatan racun dan penumpukan cairan di paru-paru, yang bisa berujung pada kematian,” kata Kepala Departemen Nefrologi dan Cuci Darah di Rumah Sakit Al Shifa Gaza, Dr. Ghazi al-Yazigi, kepada Associated Press.
Menurut laporan Palestinian Centre for Human Rights berjudul Report of Kidney Failure Patients Without Healthcare, sebanyak 1.200 pasien gagal ginjal tahap 5 di Gaza membutuhkan cuci darah selama 12 jam per minggu, terbagi dalam tiga sesi masing-masing empat jam.
Antara 2 hingga 13 Maret 2025, sebanyak 22 pasien gagal ginjal meninggal dunia akibat penutupan total perbatasan Gaza oleh Israel dan pelarangan masuknya bantuan kemanusiaan, termasuk obat-obatan dan makanan.
Pasien gagal ginjal di Gaza kini berjuang untuk bertahan hidup, berharap menemukan fasilitas medis yang masih bisa memberikan layanan cuci darah, khususnya di Gaza City dan wilayah utara.
Air terasa seperti mesiu
Dengan pilihan yang sangat terbatas, banyak pasien ginjal terpaksa mengandalkan makanan kaleng dan kacang-kacangan, menurut petugas medis di Gaza.
Kondisi ini menyebabkan kadar racun dalam darah mereka meningkat secara drastis.
Para pasien tidak punya pilihan lain selain meminum air hujan yang terasa seperti mesiu, akibat paparan bom yang luas di seluruh wilayah Gaza.
Akibatnya, mereka sangat membutuhkan sesi cuci darah yang lebih lama untuk mengeluarkan racun yang telah menumpuk dalam tubuh yang semakin melemah.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, daftar obat dan perlengkapan medis untuk pasien ginjal benar-benar kosong, termasuk obat tekanan darah.
Selain itu, ketiadaan antibiotik penting menyebabkan komplikasi serius yang meningkatkan angka kematian.
Hidup yang semakin sulit
Blokade Israel dan perintah evakuasi yang berulang di Gaza menjadi tantangan tambahan bagi akses layanan kesehatan yang rutin.
Mohamed Attiya, seorang pasien gagal ginjal, mengaku telah mengungsi setidaknya enam kali sejak melarikan diri dari rumahnya dekat kota Beit Hanoun di Gaza utara pada pekan-pekan awal perang.
“Tidak ada transportasi. Jalanan hancur,” kata Attiya. “Hidup ini sangat sulit.”
Ia mengatakan kini sering mengalami halusinasi karena tingginya kadar racun dalam darahnya.
“Pendudukan ini tidak peduli terhadap penderitaan atau orang sakit,” ujarnya, merujuk pada Israel.