BI diperkirakan tahan suku bunga 4,75 persen seiring tekanan eksternal

Penguatan rupiah diperkirakan akan lebih terlihat setelah tekanan eksternal mereda, harga minyak turun, dan arus modal asing kembali stabil.

By
Upaya BI menahan pelemahan rupiah tidak hanya melalui suku bunga, tetapi juga intervensi di pasar valas domestik dan luar negeri. / Reuters

Bank Indonesia (BI) diproyeksikan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2026, seiring kuatnya tekanan eksternal yang terus menekan nilai tukar rupiah. 

Pasar juga merevisi prediksi pemotongan suku bunga The Fed menjadi hanya satu kali tahun ini, kemungkinan pada Desember 2026. Hal ini berarti ruang penurunan BI-Rate terbatas, sehingga dalam jangka pendek BI cenderung mempertahankan suku bunga untuk menjaga stabilitas.

Per 13 Maret 2026, rupiah melemah 1,6 persen secara year-to-date dan sekitar 1 persen sejak dimulainya konflik AS-Iran. Secara tahunan, mata uang domestik telah turun 3,64 persen terhadap dolar AS. Depresiasi rupiah tergolong terkendali dibandingkan beberapa negara berkembang lain, termasuk Filipina, Rusia, Afrika Selatan, Türkiye, India, dan Thailand, yang juga mengalami pelemahan.

Upaya BI menahan pelemahan rupiah tidak hanya melalui suku bunga, tetapi juga intervensi di pasar valas domestik dan luar negeri, pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder, serta pengaturan likuiditas. Hingga 18 Februari 2026, BI tercatat telah membeli SBN senilai Rp39,92 triliun untuk memperkuat instrumen stabilisasi.

Rupiah kemungkinan akan bergerak di kisaran Rp16.850–Rp17.050 per dolar AS dalam waktu dekat, dengan risiko menembus Rp17.000 per dolar AS jika harga minyak tetap tinggi atau ketegangan global meningkat. Penguatan rupiah diperkirakan akan lebih terlihat setelah tekanan eksternal mereda, harga minyak turun, dan arus modal asing kembali stabil.