BNN bongkar laboratorium narkoba mephedrone yang dikendalikan warga Rusia di Bali
Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkap laboratorium narkotika sintetis jenis mephedrone yang diduga dikendalikan warga negara Rusia di sebuah vila di Gianyar, Bali. Dua tersangka warga Rusia ditangkap dalam operasi tersebut.
Badan Narkotika Nasional (BNN) membongkar laboratorium narkotika sintetis jenis mephedrone yang beroperasi di kompleks vila The Lavana De'Bale Marcapada, Kabupaten Gianyar, Bali.
Dalam operasi tersebut, aparat menangkap dua warga negara Rusia berinisial NT/KS (perempuan) dan ST (laki-laki). Kepala BNN Komisaris Jenderal Suyudi Ario Seto mengatakan keduanya telah tinggal di Indonesia sejak Januari 2026.
Menurut Suyudi, kedua tersangka diduga memiliki peran aktif dalam memproduksi sekaligus mendistribusikan mephedrone, narkotika sintetis yang kerap digunakan sebagai “party drug”.
Penyelidikan sejak Januari
Pengungkapan kasus ini merupakan hasil penyelidikan bersama antara BNN, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta otoritas Imigrasi yang dimulai sejak Januari 2026.
Pelaksana Tugas Deputi Pemberantasan BNN Brigadir Jenderal Roy Hardi Siahaan mengatakan aparat sebelumnya pernah menemukan mephedrone dalam jumlah kecil di Indonesia. Namun, ini merupakan pertama kalinya ditemukan fasilitas produksi narkotika tersebut dalam skala besar.
“Ini merupakan jumlah terbesar yang pernah kami temukan, sekitar 7,3 kilogram bersih,” kata Roy.
Petugas mengungkap aktivitas laboratorium tersebut pada 5 Maret sekitar pukul 23.45 WITA setelah melakukan pengawasan selama beberapa bulan.
Kedua tersangka ditangkap tidak lama setelah menyelesaikan satu siklus produksi, sehingga narkotika tersebut belum sempat diedarkan.
Barang bukti dan modus operasi
Dari lokasi, aparat menyita mephedrone dalam bentuk larutan cair dan kristal yang siap diedarkan, bersama sejumlah bahan kimia serta peralatan laboratorium yang digunakan dalam proses produksi.
Barang bukti yang diamankan antara lain sekitar 644 gram mephedrone padat dan 7.250 mililiter larutan cair, dengan total berat kotor sekitar 7,9 kilogram.
Penyidik juga menyita berbagai bahan kimia prekursor yang diduga digunakan untuk memproduksi narkotika tersebut, serta peralatan seperti timbangan digital, masker respirator, labu kaca, dan alat pengaduk magnetik.
Hasil penyelidikan awal menunjukkan NT memiliki latar belakang pendidikan biologi di Rusia, yang diduga dimanfaatkan untuk meracik narkotika sintetis tersebut.
Sementara itu, ST mengaku pernah bertugas di divisi intelijen militer Rusia sebelum keluar dari dinas karena alasan kesehatan.
Roy mengatakan sindikat internasional tersebut menggunakan modus operandi dengan menyewa sejumlah vila di Bali untuk menyamarkan aktivitas produksi narkotika.