Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) mengklarifikasi bahwa latihan bersama Angkatan Laut China di perairan timur Taiwan bersifat rutin dan tidak berkaitan dengan aktivitas tempur (war fighting). Pernyataan ini dikeluarkan setelah Taipei melayangkan protes keras dan menilai latihan tersebut berbahaya.
Latihan yang disebut China sebagai "latihan navigasi" ini mencakup komunikasi maritim, manuver formasi, hingga pembekalan di laut (replenishment at sea). Ini menjadi kali pertama China menggelar operasi semacam itu bersama militer asing di perairan tersebut.
Taipei sebut latihan sebagai 'provokasi militer'
Militer China menyatakan bahwa kapal perangnya bersama frigat Indonesia, KRI I Gusti Ngurah Rai-332, menyelesaikan latihan pada Rabu pagi. Namun, Dewan Urusan Daratan (Mainland Affairs Council) Taiwan mengecam kegiatan tersebut sebagai "provokasi militer" dan manipulasi politik Beijing untuk menciptakan kesan seolah memiliki yurisdiksi atas perairan timur Taiwan.
Langkah ini juga memicu perhatian internasional. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengimbau China untuk menghentikan tekanan militer terhadap Taiwan, bertepatan dengan kunjungan Wakil Menteri Pertahanan AS Elbridge Colby ke Jakarta untuk bertemu Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin.
Sementara itu, TNI AL menegaskan bahwa latihan passing exercise (PASSEX) tersebut merupakan tradisi universal saat kapal melintasi perairan internasional atau wilayah negara lain. TNI AL juga berencana melakukan latihan serupa dengan negara lain di sepanjang jalur pelayaran pulang dari Rusia, termasuk berpotensi dengan AL Jepang dan Armada Ketujuh AS.
Tidak ada dampak militer 'langsung' pada Taiwan
Dalam sidang parlemen di Taipei, Asisten Deputi Staf Umum Inteligensi Taiwan, Wu Tien-jen, mengonfirmasi bahwa kapal perang Indonesia memang hanya melintas dalam perjalanan pulang via Jepang dan tidak secara khusus datang untuk latihan perang. Kapal berada pada jarak sekitar 70 hingga 80 mil laut di lepas pantai timur Taiwan.
"Secara militer, hal ini tidak memberikan dampak langsung terhadap Taiwan, melainkan memiliki signifikansi geopolitik," ujar Wu. Pejabat senior keamanan Taiwan juga mengakui kepada Reuters bahwa Beijing cenderung membesar-besarkan interaksi biasa ini sebagai operasi militer gabungan.
Taiwan gelar latihan perang tahunan
Insiden ini bertepatan dengan digelarnya latihan perang tahunan Han Kuang oleh Taiwan untuk mengantisipasi potensi simulasi serangan dari China, yang hampir setiap hari melakukan operasi militer di sekitar pulau tersebut.
Bagi Indonesia, stabilitas di kawasan ini sangat krusial. Meskipun Jakarta memegang prinsip One China Policy dan tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan Taipei, Taiwan merupakan rumah bagi lebih dari 300.000 Pekerja Migran Indonesia (PMI).


























