Pemerintah Indonesia bersiap mengambil alih kendali mayoritas atas perusahaan pengelola proyek kereta cepat Jakarta–Bandung senilai $7,3 miliar, dalam langkah yang menandai restrukturisasi penting atas salah satu proyek infrastruktur terbesar yang didanai China di Asia Tenggara.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah akan menunjuk lembaga di bawah kementeriannya untuk menguasai 60 persen saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), operator layanan kereta cepat sepanjang 142 kilometer yang secara komersial dikenal sebagai “Whoosh”.
Menurut Purbaya, lembaga yang ditunjuk nantinya juga akan mengambil alih kewajiban pembayaran pinjaman proyek, meski ia menegaskan langkah itu tidak akan membebani anggaran negara.
“Pembayaran utang akan dilakukan tanpa menggunakan APBN,” ujarnya dalam konferensi pers bersama Danantara.

Proses pengambilalihan saham ini ditargetkan rampung paling lambat pertengahan September.
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, mengatakan pihaknya tengah menuntaskan tahap akhir transaksi setelah sebelumnya Indonesia dan China mencapai kesepakatan restrukturisasi utang proyek pada April lalu, meski rincian kesepakatan tersebut tidak dipublikasikan.
Proyek kereta cepat ini sebelumnya menghadapi berbagai kendala, mulai dari persoalan pembebasan lahan, keterlambatan akibat pandemi COVID-19, hingga pembengkakan biaya yang signifikan. Kondisi tersebut mendorong pemerintah melakukan penataan ulang struktur kepemilikan dan pembiayaan.
Saat ini, 60 persen saham KCIC dimiliki oleh konsorsium BUMN Indonesia yang dipimpin oleh PT Kereta Api Indonesia, dengan partisipasi signifikan dari perusahaan konstruksi PT Wijaya Karya. Sementara itu, perusahaan milik negara China tetap memegang 40 persen saham dalam proyek tersebut.
Danantara, sebagai pengelola investasi negara yang menaungi seluruh BUMN, berperan dalam koordinasi pengalihan kepemilikan ini. Langkah pemerintah dinilai sebagai upaya memperkuat kontrol domestik atas proyek strategis sekaligus menjaga keberlanjutan operasional kereta cepat pertama di Indonesia.



















