Kelompok sayap kanan di Jerman masuk ke dalam mode pengendalian kerusakan setelah serangan penabrak mobil

Pejabat mengatakan bahwa tersangka memiliki pandangan anti-Islam dan marah dengan kebijakan migran dan suaka Jerman.

Petugas polisi berbaris ketika para demonstran sayap kanan memegang tanda dan bendera dalam sebuah protes setelah sebuah mobil menabrak kerumunan orang di sebuah pasar Natal, di Magdeburg / Foto: Reuters / Reuters

Tersangka dalam serangan penabrakan mobil mematikan di pasar Natal di Jerman diketahui memiliki pandangan anti-Islam yang kuat dan marah terhadap kebijakan migrasi dan suaka Jerman, menurut pejabat setempat. Hal ini mendorong kelompok sayap kanan untuk segera melakukan upaya pengendalian kerusakan.

Menteri Dalam Negeri Nancy Fraser pada hari Sabtu menyatakan bahwa tersangka memiliki pandangan "Islamofobia". 

Awalnya, serangan ini menarik perbandingkan di media sosial dengan serangan mematikan oleh seorang imigran di pasar Natal Berlin pada tahun 2016.

Belakangan, terungkap bahwa tersangka, seorang psikiater asal Arab Saudi yang telah tinggal di Jerman selama 18 tahun, pernah mengkritik Islam dan menyatakan simpati terhadap kelompok sayap kanan dalam unggahan media sosialnya di masa lalu. 

Hal ini memicu pengendalian kerusakan dari kelompok sayap kanan.

Martin Sellner, seorang tokoh Austria yang populer di kalangan sayap kanan Jerman, mengunggah di media sosial bahwa motif tersangka "tampaknya kompleks", menambahkan bahwa tersangka "membenci Islam, tetapi dia lebih membenci orang Jerman".

'Sedih dan Terkejut'

Pemimpin partai sayap kanan Alternatif untuk Jerman (AfD), Alice Weidel, menulis di X: "Kapan kegilaan ini akan berhenti?"

"Apa yang terjadi hari ini memengaruhi banyak orang. Ini sangat mempengaruhi kami," kata Fael Kelion, seorang pria berusia 27 tahun asal Kamerun yang tinggal di kota tersebut, kepada kantor berita AFP.

"Saya pikir karena (tersangka) adalah seorang asing, penduduk akan merasa tidak senang, kurang ramah," tambahnya.

Michael Raarig, seorang insinyur berusia 67 tahun, mengatakan: "Saya sedih, saya terkejut. Saya tidak pernah menyangka hal ini bisa terjadi di sini, di sebuah kota kecil di Jerman Timur."

Dia menambahkan bahwa dia percaya serangan ini "akan menguntungkan AfD", yang memiliki dukungan terkuat di wilayah bekas Jerman Timur yang komunis.

Serangan mobil tersebut menewaskan lima orang dan melukai lebih dari 200 lainnya. Keamanan ditingkatkan pada hari Sabtu di pasar Natal lainnya di Jerman, dengan lebih banyak polisi terlihat di Hamburg, Leipzig, dan kota-kota lainnya.

SUMBER: TRT WORLD DAN AGENSI