Harga emas dunia melemah ke $4.168 per troy ounce atau setara sekitar Rp2,4 juta per gram, di tengah kenaikan harga minyak dan tekanan di pasar keuangan global. Meski demikian, indikator teknikal menunjukkan peluang pemulihan jika tekanan jual mulai mereda.
Kenaikan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Minyak mentah Brent naik 1,84 persen menjadi $106,65 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,06 persen menjadi $93,74 per barel.
Nilai tukar rupiah melemah pada pembukaan perdagangan Rabu (14/10), rupiah turun 18 poin atau 0,10 persen menjadi Rp17.918 per dolar Amerika Serikat, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.900 per dolar AS.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka turun ke level 5.914. Investor juga mencermati kemungkinan MSCI mengeluarkan sejumlah perusahaan tercatat di Indonesia dari indeksnya.
Di pasar global, indeks dolar AS berada di kisaran 102,6, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun bertahan di sekitar 5,23 persen setelah sempat melampaui 5,36 persen. Penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi dapat menambah tekanan terhadap emas, yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Meski demikian, harga emas berpotensi pulih jika tekanan jual berkurang. Investor juga menantikan data inflasi AS yang diperkirakan memengaruhi arah kebijakan suku bunga dan pergerakan dolar. Inflasi inti diproyeksikan naik dari 2,4 persen menjadi 2,5 persen, sementara inflasi umum diperkirakan meningkat dari 3,4 persen menjadi 3,6 persen.


















