Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan damai sementara setelah tiga setengah bulan perang terbuka yang menewaskan ribuan orang, termasuk jajaran tertinggi kepemimpinan Iran. Konflik tersebut juga mengguncang pasar energi global dan menimbulkan kerugian hingga puluhan miliar dolar.
Kesepakatan damai itu mencakup gencatan senjata segera oleh seluruh pihak serta pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelumnya menjadi jalur bagi seperlima pasokan energi dunia sebelum AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari.
Selain itu, kesepakatan tersebut mencakup periode 60 hari untuk negosiasi lanjutan terkait program nuklir Iran dan nasib uranium yang diperkaya serta tersimpan jauh di bawah fasilitas yang telah dihancurkan akibat pemboman.
Meski tidak tampak sebagai perjanjian komprehensif seperti Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) tahun 2015, para ahli menilai perkembangan terbaru ini menjadi peluang penting, meskipun rapuh, untuk meredakan ketegangan yang tidak boleh disia-siakan kedua pihak.
Oral Toga, peneliti di Centre for Iranian Studies yang berbasis di Ankara, mengatakan kepada TRT World bahwa kesepakatan sementara ini berbeda dari berbagai upaya sebelumnya dalam menyelesaikan krisis.
"Struktur daya tawar kini tidak lagi hanya ditentukan oleh sanksi, tenggat program nuklir, dan isolasi diplomatik. Kini, struktur itu dibentuk oleh biaya perang yang harus ditanggung secara langsung," ujarnya.
Menurutnya, AS memiliki keunggulan militer serta narasi bahwa mereka berhasil memaksa Iran kembali ke meja perundingan.
Sementara itu, Iran telah menunjukkan kemampuannya mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz, memengaruhi arus energi global, serta meningkatkan biaya ekonomi dari konflik yang berkepanjangan, tambahnya.
Waktu tercapainya kesepakatan damai ini juga dinilai krusial bagi kedua negara. Berbeda dengan negosiasi terstruktur pada 2015 yang menghasilkan JCPOA tanpa benturan militer langsung, perjanjian terbaru muncul setelah berbulan-bulan serangan udara dan gangguan terhadap jalur pelayaran.
Karena itu, tujuan utama kesepakatan tersebut bukanlah rekonsiliasi atau normalisasi hubungan.
"Tujuannya adalah meredakan ketegangan, mengendalikan krisis, dan membuka ruang negosiasi sementara," kata Toga.
Insentif untuk mempertahankan perdamaian ada di kedua pihak. Washington ingin menunjukkan kepada dunia bahwa tekanan terhadap Iran berhasil: perang berakhir, Selat Hormuz kembali dibuka, dan harga energi mereda.
Di sisi lain, Teheran membutuhkan ruang bernapas bagi perekonomiannya, pendapatan energi, akses terhadap aset yang dibekukan, serta pengurangan tekanan militer, lanjutnya.
Korban jiwa dan kerugian ekonomi akibat perang selama berbulan-bulan begitu besar sehingga kedua pihak tidak mudah meninggalkan kesepakatan tersebut.
Harga minyak melonjak tajam, dengan minyak mentah Brent sempat menembus level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir di atas 120 dolar AS per barel di tengah penutupan Selat Hormuz.
Kapal-kapal yang mencoba melintasi jalur strategis tersebut sempat menjadi sasaran serangan dari kedua belah pihak pada berbagai kesempatan, sehingga biaya asuransi melonjak dan inflasi meningkat.
Perang juga menguras persediaan amunisi AS. Kegagalan Washington melindungi sekutu-sekutunya di Timur Tengah dari serangan Iran memicu kekacauan di kawasan yang selama ini bergantung pada perlindungan militer AS.
Pada saat yang sama, Iran kehilangan para pemimpin politik dan militernya serta mengalami kerugian ekonomi jangka panjang akibat serangan AS dan Israel terhadap berbagai infrastruktur.
"Kedua pihak memiliki alasan untuk menjaga agar kesepakatan ini tetap hidup," kata Toga. Menurutnya, AS membutuhkan tekanan energi yang lebih rendah, kebebasan navigasi di Selat Hormuz, dan jalan keluar politik dari konfrontasi yang semakin mahal.
Sementara Iran membutuhkan pelonggaran sanksi, pemasukan dari ekspor minyak, akses terhadap aset yang dibekukan, waktu untuk memperbaiki kerentanan domestik, serta jeda dari tekanan militer, tambahnya.
"Semua itu merupakan insentif yang kuat demi kelangsungan hidup jangka pendek," ujarnya.
Mohammad Eslami, ilmuwan politik dari European University Institute di Italia, mengatakan kepada TRT World bahwa ia memperkirakan kesepakatan damai ini setidaknya akan bertahan pada tahap awal.
"Saya tidak melihat Amerika tertarik untuk kembali berperang dengan Iran dan kesepakatan ini pada umumnya akan tetap bertahan," katanya.
Kemampuan Iran memengaruhi jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz dan Bab al Mandab, rute penting antara Semenanjung Arab dan Tanduk Afrika, telah mengubah dinamika daya tawar dan menunjukkan kemampuan Teheran memengaruhi konflik serta negosiasi di masa mendatang, katanya.
Kesepakatan tersebut memberikan manfaat nyata bagi kedua belah pihak.
Bagi AS, perjanjian ini dapat diposisikan sebagai keberhasilan dalam meredakan ketegangan dan memberikan kelegaan bagi pasar.
"Kesepakatan ini, meskipun sangat terbatas, memberikan banyak manfaat bagi AS dan Presiden Trump tidak akan kesulitan membenarkannya di dalam negeri," kata Eslami.
Pasar pun telah merespons positif kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz, yang ditandai dengan mulai meredanya harga minyak.
Bagi Iran, jeda konflik memberikan bantuan ekonomi yang sangat dibutuhkan setelah berbulan-bulan mengalami gangguan.
Meski optimisme terhadap kesepakatan cukup tinggi, berbagai hambatan serius masih dapat menggagalkan proses perdamaian.
Toga menggambarkan kesepakatan tersebut lebih menyerupai "kerangka pengelolaan krisis yang membekukan dinamika paling berbahaya sambil menunda persoalan nuklir yang paling sulit".
Menurutnya, berbagai isu yang ditunda, seperti cadangan uranium yang diperkaya, batas pengayaan uranium, akses Badan Energi Atom Internasional (IAEA), tahapan pencabutan sanksi, dan keterkaitan dengan isu regional masih dapat menjadi penghambat.
Biaya alternatif yang terlalu mahal
Politik domestik menjadi risiko terbesar bagi keberlangsungan kesepakatan, baik di AS maupun Iran.
Di Washington, para pengkritik seperti kubu garis keras Partai Republik dan kelompok pro-Israel dapat memandang pelonggaran sanksi atau pengayaan uranium dalam skala terbatas sebagai hadiah bagi Iran.
Toga mengatakan bahwa meskipun Presiden Trump memiliki ruang politik untuk mempresentasikan kesepakatan sementara ini sebagai kemenangan, kesepakatan final nantinya akan menghadapi pengawasan ketat dari Kongres.
"Hambatan-hambatan ini serius, tetapi tidak berarti tidak dapat diatasi," tambahnya.
Di Iran, tantangan terbesar adalah mengendalikan narasi. Para kelompok garis keras menolak segala sesuatu yang dianggap menyerupai penyerahan diri atau pembatasan terhadap aset strategis negara, kata para analis.
"Kelompok garis keras di Iran menentang kesepakatan ini dan hal tersebut dapat menimbulkan masalah dalam proses penandatanganan maupun pelaksanaannya," kata Eslami.
Menurut Toga, Teheran harus menggambarkan hasil tersebut sebagai buah dari perlawanan, bukan akibat tekanan militer.
Israel juga menjadi faktor yang berpotensi menggagalkan proses. Negara itu bahkan sempat mencoba mengacaukan upaya perdamaian dengan menyerang Lebanon beberapa jam sebelum kesepakatan tercapai, sebuah tindakan yang mendapat kritik keras dari Trump.
Eslami memperingatkan bahwa Israel akan menjadi pengganggu utama ke depan dan akan berupaya "melakukan segala cara untuk menghancurkan semuanya", bahkan berpotensi membatalkan kesepakatan hanya dengan satu serangan.
Ia memperkirakan serangan baru dari Israel masih mungkin terjadi karena tujuan Tel Aviv dalam perang melawan Iran belum tercapai.
Toga juga memperkirakan Israel akan berupaya memperoleh "kebebasan bertindak semaksimal mungkin" terhadap Iran dan kelompok-kelompok proksinya di kawasan.
Ia menjelaskan bahwa kegagalan kesepakatan akan membawa kawasan kembali pada pola "tawar-menawar koersif" melalui tekanan maritim, sanksi, aktivitas kelompok proksi, dan serangan udara, tetapi dengan tingkat militerisasi yang lebih tinggi.
"Ambang eskalasi akan lebih rendah dibandingkan sebelumnya," ujarnya.
Jalur pelayaran Teluk, ekspor energi, dan pasar global akan kembali menghadapi risiko, sementara upaya pencegahan proliferasi nuklir akan semakin melemah.
"AS telah menunjukkan dirinya sebagai pemain yang tidak dapat diandalkan," kata Eslami, seraya menambahkan bahwa Iran dapat kembali menghadapi perang dalam satu atau dua tahun ke depan.
Namun, kedua pakar tersebut sepakat bahwa peluang yang terbuka saat ini terlalu berharga untuk disia-siakan.
Toga mengatakan kedua negara perlu mempertahankan tingkat ambiguitas tertentu demi memperoleh dukungan domestik terhadap kesepakatan damai tersebut.
"Ambiguitas membantu para pemimpin menjual kesepakatan ini di dalam negeri dalam jangka pendek," katanya kepada TRT World.
"(Namun) ambiguitas yang sama pada akhirnya dapat memicu perselisihan terkait kepatuhan terhadap kesepakatan."





