IKLIM
2 menit membaca
BMKG tingkatkan modifikasi cuaca hadapi kemarau dan karhutla
Pemerintah meningkatkan penggunaan teknologi modifikasi cuaca atau penyemaian awan sebagai salah satu langkah untuk menghadapi musim kebakaran yang dipicu kondisi kering.
BMKG tingkatkan modifikasi cuaca hadapi kemarau dan karhutla
Indonesia telah melakukan 252 operasi modifikasi cuaca sejak 2021 hingga Agustus 2026. / Reuters

BMKG memperingatkan sebagian besar wilayah Indonesia masih akan mengalami kondisi kering dalam beberapa pekan ke depan. Situasi ini dipengaruhi El Nino yang sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, sehingga risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan meningkat.

Pada 10 hari pertama Agustus 2026, sebanyak 535 Zona Musim (ZOM) atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Curah hujan rendah tercatat di 90,79 persen wilayah, sementara 87,28 persen wilayah mengalami curah hujan di bawah normal.

BMKG memperkirakan curah hujan pada Dasarian II Agustus hingga Dasarian I September berada di kisaran 0–150 milimeter per dasarian. Curah hujan kurang dari 50 milimeter berpeluang mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia.

“Curah hujan rendah, kurang dari 50 milimeter per dasarian, berpeluang mendominasi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua,” ungkap BMKG.

Masyarakat diimbau  menghemat air, menjaga kecukupan cairan, serta menghindari pembakaran sampah dan pembukaan lahan dengan api, terutama di kawasan gambut, semak, dan hutan.

Modifikasi cuaca ditingkatkan

Di Kalimantan, pemerintah meningkatkan modifikasi cuaca untuk membantu mengatasi kebakaran yang dipicu musim kering. Lebih dari 100 ribu hektare lahan dilaporkan terbakar pada paruh pertama 2026, sementara analisis Nusantara Atlas memperkirakan luas terbakar hingga Juli mencapai lebih dari 285 ribu hektare.

Meteorolog BMKG Safillah Anggie Wahyuni menjelaskan modifikasi cuaca hanya memanfaatkan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

“Modifikasi cuaca tidak menciptakan awan: kami mengoptimalkan awan yang berpotensi menghasilkan hujan,” ungkap Safillah kepada AFP.

Indonesia telah melakukan 252 operasi modifikasi cuaca sejak 2021 hingga Agustus 2026, meningkat dibandingkan 85 operasi dalam satu dekade sebelumnya. Sebagian besar operasi dilakukan untuk mengendalikan hujan berlebih, sementara lainnya diarahkan untuk membantu mengurangi risiko kebakaran dan membasahi lahan gambut.

Sementara itu, hampir 50 ribu petugas dikerahkan untuk menangani kebakaran. Pemerintah juga melakukan pembasahan lahan gambut, pemantauan titik panas melalui satelit, dan patroli darat.

Kebakaran turut meningkatkan polusi udara di Malaysia bagian Kalimantan. BMKG menegaskan modifikasi cuaca merupakan langkah mitigasi, bukan solusi permanen, sementara El Nino yang kuat berpotensi memperburuk kondisi kering di Indonesia.

TerkaitTRT Indonesia - Pemerintah RI siapkan modifikasi cuaca saat karhutla hanguskan 107.000 hektare dan ancaman El Nino



SUMBER:TRT Indonesia & Agensi