Rentetan gempa susulan yang terus mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) memicu lonjakan drastis jumlah warga yang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 40.000 jiwa kini mengungsi usai gempa utama bermagnitudo 7,7 mengguncang kawasan tersebut pada akhir pekan lalu.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan menjelaskan bahwa tingginya frekuensi gempa susulan menjadi faktor utama warga memilih bertahan di pos pengungsian. Hingga Selasa (18/8), tercatat sebanyak 2.119 kali gempa susulan telah terjadi di wilayah tersebut.
Berdasarkan pemutakhiran data penanganan darurat, korban jiwa akibat bencana ini bertambah menjadi 70 orang. Sementara itu, sebanyak 1.182 warga mengalami luka-luka dan 11.925 unit bangunan dilaporkan mengalami kerusakan.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan magnitudo gempa susulan berkisar antara M1,3 hingga M6,2. Dari total gempa susulan tersebut, sebanyak 24 kali gempa tercatat berkekuatan di atas M5,0, dan sedikitnya 70 kejadian gempa dirasakan secara nyata oleh masyarakat.
Dampak gempa juga melanda sejumlah titik strategis di NTT, termasuk kawasan pusat pariwisata Labuan Bajo. Sebagai langkah mitigasi dan inspeksi keselamatan bangunan secara menyeluruh, otoritas setempat menutup sementara sejumlah destinasi wisata di Pulau Flores selagi proses penyaluran bantuan logistik terus digencarkan.



















