Turkiye mengecam serangan menteri Israel ke Al Aqsa, memperingatkan akan eskalasi
Ankara menyatakan bahwa tindakan provokatif tersebut merupakan demonstrasi lain dari ketidakpedulian Israel yang terang-terangan terhadap hukum internasional dan ketidakpeduliannya dalam upaya mencapai perdamaian.
Kementerian Luar Negeri Turkiye dengan tegas mengutuk penyerbuan Masjid Al Aqsa oleh seorang anggota pemerintah Israel, menyebutnya sebagai "langkah berbahaya" yang berisiko meningkatkan ketegangan di wilayah tersebut.
Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Rabu, kementerian tersebut menuduh pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memicu ketidakstabilan, terutama mengingat pengumuman terbaru mengenai perluasan operasi militer di Gaza dan kelanjutan aktivitas pemukiman di Tepi Barat.
"Tindakan-tindakan ini sekali lagi menunjukkan pengabaian terang-terangan Israel terhadap hukum internasional dan ketidakpeduliannya terhadap upaya perdamaian," bunyi pernyataan tersebut.
Seruan global untuk menahan diri
Turkiye bergabung dengan sejumlah negara yang menyerukan de-eskalasi, seiring dengan tekanan internasional yang terus meningkat untuk mencari resolusi atas konflik yang sedang berlangsung. Upaya diplomatik terus dilakukan, namun situasi di lapangan tetap rapuh.
Turkiye mendesak komunitas internasional untuk mengambil sikap tegas terhadap provokasi semacam itu, dengan menekankan pentingnya melindungi situs-situs suci dan mencegah perluasan wilayah lebih lanjut melalui pendudukan.
Kecaman ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut, dengan kekhawatiran yang semakin besar atas dampak kemanusiaan dari agresi Israel di Gaza dan implikasi yang lebih luas dari kebijakan pemukiman ilegal Israel.
Para pengamat memperingatkan bahwa provokasi lebih lanjut di situs-situs keagamaan di Yerusalem Timur yang diduduki dapat memicu kerusuhan yang lebih luas, sehingga memperumit upaya perdamaian di kawasan yang sudah sangat tidak stabil.