Bandara Soekarno-Hatta perketat skrining kesehatan untuk antisipasi virus Nipah

Maskapai diwajibkan melakukan pemeriksaan awal terhadap penumpang, termasuk penelusuran riwayat perjalanan dalam kurun 21 hari terakhir.

By
Penumpang yang mengenakan masker wajah tiba saat seorang pekerja menyemprotkan disinfektan di terminal kedatangan Bandara Soetta / Arsip Reuters

Otoritas kesehatan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, memperketat pengawasan terhadap penumpang internasional sebagai langkah pencegahan masuknya virus Nipah ke Indonesia. Upaya ini dilakukan di tengah meningkatnya kewaspadaan global terhadap penyakit zoonosis tersebut.

Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Bandara Soetta, Naning Nugrahini, menyatakan bahwa sistem pemantauan kesehatan sebenarnya telah berjalan dan kini diperkuat sesuai perkembangan situasi. Menurutnya, setiap pelaku perjalanan wajib mengisi deklarasi kesehatan sebelum tiba di Indonesia.

“Terlepas ada atau tidaknya ancaman virus, kami sudah memiliki sistem olimnesia yang mencakup deklarasi kesehatan,” ujar Naning kepada Antara, pada Selasa. Ia menambahkan bahwa formulir tersebut digunakan untuk menilai kondisi fisik penumpang sebelum memasuki wilayah Indonesia.

Maskapai diwajibkan melakukan pemeriksaan awal terhadap penumpang, termasuk penelusuran riwayat perjalanan dalam kurun 21 hari terakhir. Dari data tersebut, otoritas dapat menyusun gambaran kesehatan penumpang di setiap penerbangan yang mendarat di Tanah Air.

Pengawasan diperketat

BBKK juga memberikan perhatian khusus pada penerbangan langsung dari negara-negara yang melaporkan kasus Nipah, termasuk India. Dengan basis data tersebut, petugas dapat mengidentifikasi penumpang yang berpotensi menunjukkan gejala.

Sebagai bagian dari penguatan pengawasan, sejumlah pos pemeriksaan khusus telah disiagakan di area terminal. Fasilitas tersebut dilengkapi thermal scanner, serta pemeriksaan visual oleh tenaga kesehatan terhadap penumpang yang baru tiba.

Naning memastikan hingga kini belum ditemukan kasus penularan virus Nipah di Indonesia. “Sampai hari ini, dari hasil pemantauan kami, belum ada penumpang yang menunjukkan tanda dan gejala penyakit tersebut,” katanya.

Selain pengawasan terhadap manusia, BBKK juga berkoordinasi dengan otoritas karantina hewan, mengingat virus Nipah diketahui berasal dari hewan seperti kelelawar, monyet, dan babi. Ia mengimbau masyarakat dan pelaku perjalanan untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan lembaga kesehatan lainnya menyebut virus Nipah dapat menyerang paru-paru dan sistem saraf pusat. Gejala yang dilaporkan meliputi demam, sakit kepala, kantuk, kebingungan, hingga koma, dengan tingkat kematian yang dilaporkan melebihi 40 persen pada pasien terinfeksi.