Pada hari Minggu, 16 November, di Tashkent terjadi sebuah peristiwa yang tanpa berlebihan berpotensi mengubah konfigurasi politik regional Eurasia. Pada Pertemuan Konsultatif ketujuh para kepala lima negara Asia Tengah sepakat secara bulat untuk menerima Azerbaijan sebagai peserta penuh.
Formula C5 berubah menjadi C6, dan di peta politik muncul garis penghubung baru antara Asia Tengah dan Kaukasus Selatan.
Jembatan melintasi Kaspia
"Hari ini adalah hari yang benar-benar bersejarah bagi bangsa-bangsa saudara kita," ujar Presiden Uzbekistan Shavkat Mirziyoyev saat membuka sidang. Ia menekankan bahwa bergabungnya Azerbaijan "akan membuka cakrawala baru untuk memperluas kerja sama perdagangan-ekonomi, investasi, dan kerja sama budaya-kemanusiaan."
Mirziyoyev menggunakan metafora jembatan: "Sebenarnya kita akan membangun jembatan kokoh antara Asia Tengah dan Kaukasus Selatan, membuka jalan menuju pembentukan ruang kerja sama yang tunggal."
Metafora itu semakin nyata — dari jalur transportasi melintasi Kaspia hingga rute transit yang menghubungkan kedua wilayah.
Azerbaijan sebelumnya sudah beberapa kali berpartisipasi dalam pertemuan semacam ini — pada 2023 di Dushanbe dan pada 2024 di Astana hadir sebagai tamu kehormatan. Kini Baku mendapat tempat di meja perundingan dengan kedudukan setara.
Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev dalam pidatonya menyoroti intensitas kontak: 14 kunjungannya ke negara-negara Asia Tengah dan 23 kunjungan pemimpin wilayah itu ke Baku dalam tiga tahun terakhir.
"Asia Tengah dan Azerbaijan kini membentuk ruang geopolitik dan geoekonomi tunggal, yang signifikansinya semakin meningkat di dunia," kata Aliyev di Tashkent.

Agenda ambisius
Selain upacara perluasan, KTT Tashkent menetapkan program pembangunan wilayah yang ambisius. Mirziyoyev mengajukan tujuh inisiatif kunci yang mencakup seluruh bidang kerja sama.
Pertama — transformasi kelembagaan. Pemimpin Uzbekistan mengusulkan mengubah pertemuan konsultatif menjadi format strategis "Komunitas Asia Tengah" dengan pembentukan Sekretariat, Dewan Tetua dan peningkatan status koordinator nasional.
"Waktunya menuntut mengubah pertemuan kita dari bentuk konsultatif dialog regional menjadi format strategis," tegasnya.
Kedua — lonjakan ekonomi. Perdagangan antarnegara di wilayah ini mencapai US$10,7 miliar, investasi meningkat 17%. Namun potensi memungkinkan peningkatan angka-angka ini 1,5–2 kali lipat. Diusulkan Program Regional kerja sama perdagangan-ekonomi hingga 2035 dan pembentukan ruang investasi bersama.
Ketiga — terobosan infrastruktur. Pembicaraan meliputi jalur kereta China–Kyrgyzstan–Uzbekistan, Koridor Trans-Afghanistan, dan perluasan rute transkaspia. Presiden Kyrgyzstan Sadyr Japarov mengaitkan proyek-proyek ini dengan Koridor Zangezur milik Azerbaijan, menyebutnya "kelanjutan logis dan strategis" dari arteri transportasi baru tersebut.
Keempat — keamanan. Para kepala negara mengesahkan Konsep keamanan dan stabilitas regional serta Katalog risiko dan ancaman untuk 2026–2028. Perhatian khusus diberikan pada Afghanistan — Mirziyoyev menyatakan integrasi Kabul ke proyek infrastruktur, energi, dan transportasi regional "harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kebijakan regional bersama."
Kelima — masalah air. Diusulkan menyatakan 2026–2036 sebagai Dekade tindakan praktis untuk penggunaan air yang rasional di Asia Tengah dan mendirikan Pusat Kompetensi Regional di bidang pengelolaan air. Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev mendukung adopsi Konvensi Kerangka kerja tentang sumber daya air.
Keenam dan ketujuh — budaya dan ilmu pengetahuan. Diusulkan menggelar Kongres Internasional tahunan tentang warisan spiritual dan membentuk Dana penelitian ilmiah untuk proyek antarnegara serta penerapan kecerdasan buatan.

Angka dan koridor
Aliyev memaparkan statistik yang mengesankan. Angkutan barang melalui Koridor Tengah lewat Azerbaijan meningkat 90% dalam tiga tahun. Pelabuhan Alat, kereta api Baku–Tbilisi–Kars, sembilan bandara internasional dan maskapai kargo terbesar di kawasan — semua ini menjadikan Azerbaijan pusat transportasi Eurasia.
Pembangunan segmen rel Zangezur di wilayah Azerbaijan mendekati penyelesaian. Pada tahap pertama jalur ini akan memiliki kapasitas 15 juta ton barang per tahun. Jalan tol di rute yang sama juga dalam tahap akhir. "Jalur Sutra digital" mencakup penanaman kabel serat optik di dasar Kaspia, sementara proyek energi membuka peluang ekspor listrik bersama.
Perdagangan antara Uzbekistan dan Azerbaijan selama sembilan bulan pertama 2025 tumbuh hampir 87,5% dibanding tahun lalu. Integrasi ekonomi yang lebih erat bisa memperkuat tren ini dan membuka pasar baru.
Mengapa ini penting
Bergabungnya Azerbaijan ke format ini memiliki beberapa dimensi — geografis, ekonomi, dan geopolitik.
Secara geografis, keputusan ini menciptakan penghubung antara dua wilayah yang secara historis berkembang paralel namun sering terpisah. Kini dari Kaspia hingga Lembah Fergana terbentuk ruang interaksi yang lebih terpadu.
Secara ekonomi, Azerbaijan mendapat akses ke pasar Asia Tengah, sementara lima republik mendapat jalur ke Kaukasus Selatan dan selanjutnya ke Eropa serta Timur Tengah. Baku membawa pengalaman di bidang energi, minyak dan gas, serta modal investasi. Bagi negara-negara Asia Tengah ini berarti diversifikasi hubungan ekonomi dan penguatan potensi transit.
Secara geopolitik, perluasan format memperkuat suara kawasan di arena internasional. Di saat kekuatan besar — AS, China, Rusia, dan UE — menata kembali hubungan mereka, negara-negara regional memperoleh ruang manuver lebih luas. Tokayev mencatat bahwa "Asia Tengah sedang mengalami periode transformasi besar", dan partisipasi Azerbaijan akan memperkokoh kerja sama regional.

Keputusan itu menandai dimulainya babak baru dalam arsitektur kerja sama regional. Masuknya Azerbaijan ke format konsultatif memperkuat peran negara itu sebagai jembatan antara Kaukasus Selatan dan Asia Tengah.
Ini memperluas pengaruh strategis Baku, terutama pada peta Eurasia, dan memberikan bobot lebih besar pada suaranya dalam proses regional.
Melalui partisipasi dalam mekanisme perumusan konsep keamanan dan strategi pembangunan berkelanjutan, Baku mendapatkan kesempatan memengaruhi arah umum Asia Tengah. Hal ini memperkuat subyektivitas internasionalnya dan memungkinkan pembentukan posisi bersama terhadap isu-isu strategis — transit, sumber daya air, energi, dan keamanan.
Keputusan itu juga mencerminkan keinginan yang tumbuh di kawasan untuk menyampaikan posisi tunggal dan terkoordinasi di panggung global. Penerimaan Azerbaijan setara dengan negara-negara Asia Tengah dalam dokumen-dokumen keamanan dan risiko meningkatkan potensi respons kolektif terhadap ancaman lintas batas — ekstremisme, ancaman siber, dan ketidakstabilan air.
Dari blok ke jaringan
Perubahan ini bisa disebut revolusi senyap penentuan nasib sendiri. Era ketika urusan global semata-mata berputar di sekitar kekuatan besar sedang bergeser.
Asia Tengah berubah menjadi gugus negara-negara menengah yang mandiri, yang tak lagi mendefinisikan diri hanya melalui kepentingan tetangga besar — Rusia dan China.
Kebangkitan kawasan tidak semata karena posisi geopolitik yang menguntungkan, tetapi juga karena cadangan bahan langka dan mineral penting yang permintaannya meningkat di pasar dunia. Negara-negara kawasan belajar hidup dalam dunia multi-pusat kekuatan — bukan sebagai korban persaingan kekuatan besar, melainkan sebagai pelaku aktif dan perancang kerja sama.
Format pertemuan konsultatif yang diinisiasi pada 2017 menjadi contoh langka kerja sama regional tanpa perantara eksternal. Melalui dialog langsung berhasil diatasi kontradiksi lama — sengketa teritorial, ketidakpercayaan — dan beralih ke kemitraan nyata.
Kini dengan bergabungnya Azerbaijan sistem ini memperoleh dimensi baru dan dorongan perkembangan tambahan.
Simbolisme dan persaudaraan
Menjelang KTT, para presiden mengunjungi Pusat Peradaban Islam di Tashkent, tempat tersimpannya Mushaf Usman — salah satu manuskrip Al-Qur'an tertua.
Di sana juga digelar upacara penghargaan bagi para pemenang penghargaan internasional baru "Warisan Masa Depan" yang didirikan oleh Uzbekistan. Para pemenang berasal dari semua enam negara — dari penulis nasional Kyrgyzstan Sultan Raev hingga artis nasional Azerbaijan Alim Qasimov.
Dalam pidatonya Aliyev menekankan dukungan simbolis yang diberikan negara-negara Asia Tengah dalam pemulihan wilayah-wilayah yang dibebaskan di Azerbaijan. Uzbekistan membangun sekolah bernama Mirzo Ulugbek di Fizuli, Kazakhstan mendirikan Pusat kreativitas anak bernama Kurmangazy, Kyrgyzstan membangun sekolah bernama Manas di Aghdam.
Turkmenistan meletakkan batu pertama untuk pembangunan masjid di Fizuli. "Semua ini menjadi simbol dukungan saudara," kata Presiden Azerbaijan.

Selanjutnya
Kepresidenan dalam format baru "Asia Tengah dan Azerbaijan" beralih ke Turkmenistan. Presiden Serdar Berdymukhammedov memastikan bahwa Ashgabat akan berupaya memperkuat persatuan dan kohesi, mengembangkan kemitraan ekonomi dan menarik investasi asing yang signifikan.
Para menteri luar negeri diperintahkan menyesuaikan dokumen-dokumen regulasi dengan status baru Azerbaijan. Para kepala negara menandatangani pernyataan bersama, mengesahkan Konsep keamanan regional, dan menyetujui dukungan bagi Kyrgyzstan dalam pencalonannya di Dewan Keamanan PBB untuk 2027–2028.
Mirziyoyev menutup pidatonya dengan kata-kata yang menjadi benang merah pertemuan: "Kekuatan kita ada dalam persatuan. Jalan kita menuju keberhasilan adalah persahabatan dan kerja sama."
Dalam rumusan ini tersirat inti dari apa yang terjadi di Tashkent. Asia Tengah dan Azerbaijan membentuk cakrawala politik bersama, di mana setiap negara saling menguatkan dan potensi kolektif kawasan tumbuh.
Pertemuan di Tashkent menunjukkan bahwa kerja sama regional telah mencapai tingkat yang mampu menahan tantangan eksternal. Azerbaijan masuk ke format sebagai negara dengan modal politik serius, visi strategis dan instrumen pembangunan nyata. Keputusan ini membuka tahap baru di mana enam negara akan bertindak secara terkoordinasi, berlandaskan logika bersama ke depan.
Seperti yang dicatat penasihat presiden Azerbaijan Hikmet Hajiyev dalam unggahannya: "Mulai sekarang Asia Tengah adalah enam." Di balik frasa singkat itu berdiri realitas geopolitik baru Eurasia.
















