Indonesia berpotensi beli minyak Rusia pada $59 per barel, jauh lebih murah dari harga global

Di tengah upaya pemerintah Indonesia memperkuat kerjasama sektor energi dengan Rusia, Pakar energi mengatakan Indonesia diperkirakan akan membeli minyak Rusia lebih murah di tengah lonjakan harga global.

By
FOTO ARSIP: Ilustrasi menunjukkan pompa minyak dan bendera Rusia. / Reuters

Indonesia membuka peluang memperoleh minyak mentah dari Rusia dengan harga yang lebih kompetitif di tengah lonjakan harga energi global. 

Pakar energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menilai harga minyak Rusia berpotensi berada di kisaran 59 dolar AS per barel, lebih rendah dibanding harga minyak dunia yang saat ini mendekati 100 dolar AS per barel.

Kenaikan harga global dipicu eskalasi konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur utama distribusi minyak dunia. Kondisi ini sempat mendorong harga hingga menyentuh 116 dolar AS per barel.

“Betul. Bahkan dalam kondisi harga normal 60–70 dolar AS per barel, minyak Rusia tetap lebih murah, sekitar 59 dolar AS per barel,” ujar Yayan dikutip oleh Antara pada Selasa (14/4).

Ia menjelaskan, sejak sanksi Barat terhadap Rusia pada 2022, harga minyak Rusia cenderung lebih rendah dibandingkan minyak dari kawasan Timur Tengah. 

Meski demikian, jika memperhitungkan biaya logistik sekitar 30 persen, harga minyak Rusia yang sampai di Indonesia diperkirakan berada di kisaran 76,7 hingga 80 dolar AS per barel.

“Lebih efisien, atau bahkan bisa lebih murah jika lobi antara Presiden Prabowo dan Presiden Putin berhasil,” tambahnya.

Pemerintah Indonesia sendiri tengah menjajaki kerja sama energi dengan Rusia, Namun hingga kini, belum ada pengumuman atau kesepakatan terkait pembelian minyak untuk Indonesia.

Dikutip dari laporan Antara hari ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin membahas langkah konkret kerjasama energi yang berorientasi pada kepentingan nasional.

Kerja sama tersebut meliputi pengembangan kilang, peningkatan perdagangan minyak, serta pemanfaatan teknologi energi.

Selain itu, kedua negara juga membuka peluang kolaborasi di sektor energi bersih sebagai bagian dari upaya diversifikasi energi jangka panjang.

Di tengah ketidakpastian pasar global, pemerintah menilai kemitraan dengan Rusia menjadi salah satu opsi strategis untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional.