Korban longsor Cilacap bertambah jadi 13 orang, puluhan warga masih terdampak

Jumlah korban tewas akibat longsor di Desa Cibeunying, Cilacap, meningkat menjadi 13 orang setelah satu jenazah kembali ditemukan. Sebanyak 10 warga masih dicari sementara puluhan lainnya terdampak dan belasan rumah rusak.

By
Tim SAR mencari korban di lokasi tanah longsor, yang melanda Desa Cibeunying pada 13 November, di Cilacap. / Reuters

Kepala Kantor SAR/Basarnas Cilacap, Muhammad Abdullah, menyampaikan bahwa jumlah korban jiwa akibat tanah longsor di Desa Cibeunying, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, kembali bertambah menjadi 13 orang setelah tim menemukan jenazah Diah Ramadani (17).

Peristiwa tersebut terjadi pada hari Kamis di mana tumpukan tanah dan puing mengubur sekitar belasan rumah di Desa Cibeunying. Bencana ini menghancurkan 12 rumah dan mengancam 16 rumah lainnya di wilayah seluas kurang lebih 6,5 hektare. 

Material longsoran menimbun permukiman, memicu penurunan tanah sekitar dua meter, serta menimbulkan retakan sepanjang 25 meter.

Hingga Minggu malam, 16 November 2025, tercatat 46 warga terdampak. Dari jumlah itu, 23 orang berhasil selamat, 13 orang telah ditemukan meninggal dunia, sementara 10 lainnya masih dalam proses pencarian.

“Total jumlah korban meninggal dunia yang telah ditemukan hingga hari keempat operasi pencarian sebanyak 13 orang, sehingga masih ada 10 orang yang dalam pencarian,” katanya, dikutip oleh Antara.

Kantor berita negara Antara juga sebelumnya mengutip pernyataan para pejabat yang menyatakan bahwa upaya pencarian sulit dilakukan karena para korban terjebak di bawah lapisan tanah sedalam 3 hingga 8 meter.

Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) melaporkan pada hari Sabtu tanah longsor yang melanda Cilacap, Jawa Tengah terjadi setelah hujan deras selama berhari-hari. Juru bicara badan tersebut, Abdul Muhari, mengatakan bahwa tim penyelamat menemukan tiga mayat pada hari Jumat dan delapan lainnya pada hari Sabtu.

Proses pencarian dan penyelamatan masih berlanjut hingga hari ini.

Indonesia memasuki musim hujan pada bulan September, yang menurut BMKG akan berlanjut hingga April, periode yang biasanya ditandai dengan peningkatan banjir dan curah hujan ekstrem.

Jawa Tengah sendiri telah mengalami beberapa insiden mematikan musim ini. Pada bulan Januari, tanah longsor lain yang disebabkan oleh hujan di kota Pekalongan menewaskan sedikitnya 25 orang.