Kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Prancis terus menunjukkan penguatan, terutama menjelang pengiriman lanjutan pesawat tempur Rafale ke Tanah Air pada tahun ini.
Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, menyebut kolaborasi kedua negara berjalan positif, baik antara pemerintah maupun industri pertahanan masing-masing.
“Kami terus mengembangkan kerja sama pertahanan bersama pemerintah Indonesia dan industri terkait. Sejauh ini berjalan baik,” ujar Penone di Jakarta.
Indonesia sebelumnya telah memesan 42 unit jet tempur Rafale produksi Dassault Aviation dengan nilai kontrak sekitar 8,1 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp120 triliun. Pada akhir Januari 2026, tiga unit pertama telah tiba di Provinsi Riau.
Pengiriman lanjutan dan perluasan kerja sama
Pemerintah Indonesia menargetkan pengiriman berikutnya berlangsung pada pertengahan 2026. Meski demikian, jumlah unit yang akan datang belum diumumkan secara rinci dan masih bergantung pada kesiapan teknis.
Selain memperkuat sektor pertahanan, Prancis juga membuka peluang kerja sama di bidang lain seperti budaya dan olahraga. Penone menilai partisipasi pasukan Indonesia dalam parade Bastille Day tahun lalu turut meningkatkan visibilitas Indonesia di mata publik Prancis.
Di sisi lain, penguatan alutsista menjadi salah satu fokus pemerintah Indonesia. Selain Rafale, Indonesia juga mengonfirmasi pembelian sistem rudal BrahMos dari India.
Kesepakatan strategis di bidang pertahanan antara kedua negara sebelumnya juga diteken saat kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Jakarta pada Mei 2025. Perjanjian tersebut mencakup peluang tambahan pengadaan Rafale serta kerja sama perlindungan informasi rahasia terkait pertahanan.
Pemerintah Indonesia sendiri mengalokasikan anggaran pertahanan sekitar Rp337 triliun pada 2026, sebagai bagian dari upaya modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista).







