Media AS soroti gencatan senjata AS-Iran, peran Pakistan dan rapuhnya kesepakatan jadi perhatian

Media-media besar AS menempatkan gencatan senjata yang dimediasi Pakistan sebagai isu utama, sembari menyoroti potensi pelanggaran.

By Baba Umar
Media AS meliput secara menyeluruh gencatan senjata AS-Iran, menyoroti peran Pakistan dan rapuhnya gencatan senjata tersebut. / Other

Washington DC — Media-media Amerika Serikat memberikan liputan luas terhadap gencatan senjata antara AS dan Iran yang dimediasi oleh Pakistan. Isu ini menjadi berita utama, sekaligus disertai peringatan mengenai rapuhnya kesepakatan 14 hari tersebut di tengah laporan berbagai pelanggaran.

Hal ini menyusul pengumuman Presiden Donald Trump pada Selasa malam terkait gencatan senjata bersyarat dengan Teheran. Kesepakatan itu menghentikan sementara serangan AS-Israel terhadap Iran, dengan imbalan Iran membuka kembali Selat Hormuz secara penuh dan aman bagi pelayaran, yang sebelumnya sudah beroperasi sebelum perang dimulai pada 28 Februari.

Perundingan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu di Islamabad, ibu kota Pakistan. Perwakilan Iran dan AS akan hadir, yang berpotensi menjadi pembicaraan langsung pertama antara kedua pihak.

Dalam pemberitaannya, CNN, The New York Times, dan The Washington Post menyoroti sifat kesepakatan yang mendadak sekaligus rapuh.

Media-media tersebut juga menekankan perubahan sikap Trump yang tajam, dari sebelumnya melontarkan ancaman keras terhadap Iran menjelang tenggat waktu.

The Washington Post mengangkat judul utama “Halt in strikes mostly holds after Trump, Iran agree to 2-week ceasefire…”, dengan mencatat bahwa Washington dan Teheran sama-sama mengklaim kemenangan serta membuka peluang jeda dari konflik.

Namun, media itu juga menyoroti bahwa Israel tampaknya melanggar gencatan senjata dengan meningkatkan serangan ke Lebanon, yang telah menewaskan lebih dari 250 orang dan melukai ratusan lainnya.

CNN mengangkat judul “Fragile ceasefire takes effect as US and Iran prepare for talks in Pakistan”, dengan menyoroti klaim dari kedua pihak serta menyebut bahwa utusan Trump Steve Witkoff, Jared Kushner, dan Wakil Presiden JD Vance diperkirakan akan menghadiri perundingan di Islamabad.

Media tersebut juga memuat analisis Abbas Al Lawati yang menilai Iran keluar dari perang dengan “keunggulan strategis yang belum pernah terjadi sebelumnya”.

The New York Times mengangkat judul “Fragile Cease-Fire Takes Hold as Both Sides Claim Victory”, sembari menekankan bahwa kelegaan global masih dibayangi ketidakpastian mengenai langkah selanjutnya.

Media itu juga melaporkan bahwa serangan Israel ke Lebanon tetap berlanjut meskipun ada gencatan senjata, serta mengulas bagaimana Pakistan muncul sebagai mediator utama antara AS dan Iran.

Sementara itu, Fox News lebih menyoroti peran Trump dan pencapaian AS, dengan judul yang menekankan bahwa kesepakatan terjadi karena “rezim baru Iran menghadapi pilihan sulit sebelum akhirnya menyetujui gencatan senjata”.

Media tersebut juga menampilkan pernyataan Trump dan pejabat seperti Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang menyebut adanya “kemenangan militer yang menentukan”, serta peringatan JD Vance bahwa gencatan senjata bersifat rapuh namun dapat bertahan jika Iran bernegosiasi dengan itikad baik.

NPR mengangkat sudut pandang ekonomi, dengan fokus pada anjloknya harga minyak dan menguatnya pasar saham setelah pengumuman gencatan senjata.

Laporan itu menyebut krisis energi akibat perang AS-Israel melawan Iran telah berdampak pada konsumen global, termasuk di AS, di mana harga bensin melampaui 4 dolar per galon.

POLITICO menurunkan judul “World exhales — a little — as US, Iran agree to ceasefire”, yang menggambarkan kelegaan global setelah ketegangan meningkat akibat retorika Trump.

Seorang pejabat Eropa dikutip mengatakan, “Lebih baik Taco Tuesday daripada Perang Dunia III,” sebagai bentuk harapan bahwa jeda konflik ini dapat membuka jalan bagi solusi diplomatik.

Nate Swanson, mantan pejabat yang pernah bernegosiasi dengan Iran, mengatakan kepada POLITICO bahwa kesediaan Iran membuka Selat Hormuz selama dua pekan justru menunjukkan AS kehilangan posisi tawar.

“Jika dua bulan lalu keuntungan terbesar AS hanyalah Selat Hormuz tetap terbuka, itu menunjukkan kebijakan yang keliru dan Iran justru lebih kuat dari sebelumnya,” ujarnya.

The Wall Street Journal menyoroti klaim Menteri Pertahanan Hegseth terkait “kemenangan menentukan” atas Iran.

Media itu juga mengulas dampak konflik terhadap negara bagian California yang sangat bergantung pada impor minyak mentah, dengan sekitar sepertiga pasokannya berasal dari Timur Tengah.

Selain itu, The Wall Street Journal menyoroti bagaimana pernyataan Trump tentang potensi kehancuran peradaban Iran memicu spekulasi global mengenai niat sebenarnya.

ABC News melaporkan klaim Hegseth bahwa AS telah mencapai tiga target militer, sekaligus menyoroti peran Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang dinilai berhasil mendorong kedua pihak mencapai kesepakatan di saat-saat terakhir.

Sementara itu, NBC News menghadirkan pembaruan langsung, dengan analisis yang menyebut bahwa negosiasi menuju perdamaian jangka panjang akan menjadi pertarungan antara dua proposal yang sulit dipertemukan.

USA Today mengangkat pertanyaan apakah harga bahan bakar akan turun seiring melemahnya harga minyak, serta menyoroti Pakistan dan China sebagai mediator yang tidak terduga namun efektif.

Media lain seperti Associated Press lebih fokus pada pembaruan situasi, kronologi, peran Pakistan, serta reaksi langsung, termasuk perayaan warga Iran dan sambutan para pemimpin dunia.

Associated Press juga menyoroti perbedaan versi mengenai isi kesepakatan gencatan senjata yang disampaikan oleh masing-masing pihak.