Presiden Prabowo Subianto menerima surat kepercayaan dari delapan duta besar luar biasa dan berkuasa penuh (LBBP) negara sahabat dalam sebuah upacara resmi di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin (8/6).
Penyerahan kredensial tersebut menandai dimulainya masa tugas para diplomat di Indonesia serta menjadi simbol komitmen negara-negara mitra untuk mempererat hubungan bilateral dengan Jakarta di berbagai sektor.
Delapan diplomat yang diterima Presiden terdiri atas Duta Besar Sri Lanka untuk Indonesia Sumadhurika Sashikala Premawardhane, Duta Besar Filipina Christopher Baltazar Montero, Duta Besar Korea Selatan Yoon Soongu, Duta Besar Republik Ceko Petr Kopriva, Duta Besar Palestina Abdalfatah Ahmed Khalil Alsattari, Duta Besar Yunani Dimitrios Michalopoulos, Duta Besar Lebanon Salam Al Achkar, serta Duta Besar non-residen Saint Lucia Menissa Rambally.
Dalam pertemuan tersebut, para duta besar menyampaikan keinginan negara mereka untuk memperluas kerja sama dengan Indonesia sekaligus memperkuat hubungan yang telah terjalin selama ini.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan bahwa setelah penyerahan surat kepercayaan, para duta besar menyampaikan salam dari para pemimpin negara masing-masing kepada Presiden Prabowo. Sejumlah diplomat juga memberikan apresiasi terhadap berbagai langkah diplomasi yang dilakukan Indonesia.
Presiden Prabowo kembali menegaskan arah kebijakan luar negeri Indonesia yang berpegang pada prinsip bebas aktif dan tidak berpihak pada blok mana pun.
“Ada beberapa memberikan pandangan-pandangan, dan Bapak Presiden juga sekali lagi menyampaikan komitmennya bahwa Indonesia memutuskan — oleh founding fathers kita bahwa kebijakan luar negeri kita adalah bebas aktif, dan kita non-aligned,” kata Prasetyo.
Dalam rangkaian acara penyerahan surat kepercayaan hingga pertemuan di Ruang Veranda, turut mendampingi Presiden antara lain Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Wakil Menteri Luar Negeri Muhammad Anis Matta, Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Christiawan Nasir, dan Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno.





















