Ronaldo berisiko mendapat larangan bermain di Piala Dunia setelah kartu merah karena menyikut bek Irlandia dalam pertandingan kualifikasi
Kapten Portugal Cristiano Ronaldo berpotensi menerima larangan dua laga — yang bisa membuatnya absen pada pertandingan pertama Piala Dunia 2026 — setelah VAR menaikkan kartu kuning menjadi kartu merah atas sikutannya terhadap Dara O’Shea.
Cristiano Ronaldo dikeluarkan dari lapangan setelah menyikut bek Irlandia Dara O’Shea dalam laga kualifikasi Piala Dunia di Dublin — sebuah keputusan yang bisa membuatnya absen pada pertandingan pembuka turnamen tahun depan jika Portugal berhasil lolos.
Insiden pada Kamis malam itu terjadi tepat setelah satu jam pertandingan berlangsung di Aviva Stadium, ketika Irlandia unggul 2–0.
Ronaldo mengayunkan siku kanannya ke punggung O’Shea saat keduanya berebut posisi.
Wasit awalnya memberikan kartu kuning, namun setelah meninjau tayangan ulang, ia menaikkan keputusan tersebut menjadi kartu merah langsung.
Momen itu terasa luar biasa bagi kapten berusia 39 tahun tersebut, yang sudah tampil lebih dari 220 kali untuk Portugal tanpa pernah menerima kartu merah dalam laga internasional kompetitif.
Sesuai regulasi FIFA, tindakan kekerasan biasanya diganjar larangan dua pertandingan, yang berarti ia bisa absen pada laga perdana Piala Dunia — jika Portugal lolos.
Irlandia akhirnya menang 2–0 lewat dua gol babak pertama dari Troy Parrott, namun sorotan malam itu segera tertuju pada konsekuensi dari kartu merah Ronaldo.
‘Itu bukan karena saya’
Pelatih Irlandia Heimir Hallgrimsson kemudian mengatakan bahwa Ronaldo keliru menyalahkannya atas kartu merah tersebut.
"Dia memuji saya karena memberi tekanan pada wasit tapi, dengar, itu bukan karena saya. Aksinya di lapanganlah yang membuatnya mendapat kartu merah," ujar Hallgrimsson kepada wartawan.
"Ini sama sekali bukan urusan saya, kecuali kalau saya masuk ke dalam kepalanya." Ia menambahkan: "Saya kira ini hanya momen sedikit ceroboh dari dirinya."
"Tak mudah bagi pemain seperti Cristiano berada di dalam kotak penalti," kata pelatih Portugal Roberto Martinez.
"Ia mendapat kontak terus-menerus dari para bek yang menariknya. Tidak ada unsur kekerasan — ia hanya mencoba melepaskan diri."