Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) sejak Selasa (15/9) hingga Sabtu (19/9). Sebanyak tiga ton natrium klorida (NaCl) atau garam dapur disiapkan untuk menyemai awan potensi hujan demi meredakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan.
Tenaga Ahli Kepala BNPB, Marsekal Pertama TNI Albertus Irianto, menyampaikan bahwa operasi ini memanfaatkan keberadaan awan potensial yang terpantau di atas wilayah Kaltim.
"Kami berharap awan-awan ini berpotensi menghasilkan curah hujan sehingga kondisi di wilayah terdampak dapat berangsur membaik," ujar Irianto usai rapat kesiapsiagaan di Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto, Samarinda, Kamis (17/9).
Penyemaian garam dilakukan secara bertahap menggunakan pesawat Cessna 208B Grand Caravan EX. Area sasaran meliputi Kabupaten Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kota Samarinda, Kota Balikpapan, Kutai Barat, hingga Penajam Paser Utara. Berdasarkan pemantauan meteorologi, peluang pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut berada pada kategori sedang hingga tinggi, yakni sekitar 50–70 persen.
Kabut asap memburuk, sekolah di Samarinda dialihkan ke PJJ
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengungkapkan bahwa cuaca kering ekstrem memicu lonjakan titik panas (hotspot), khususnya di area lahan gambut yang membutuhkan penanganan khusus. Kebakaran ini berdampak langsung pada kualitas udara di ibu kota provinsi.
Kepala Laboratorium Kesehatan Kaltim, Muhammad Yunus, mengonfirmasi bahwa Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Samarinda telah masuk kategori tidak sehat dengan partikel kritis PM2,5. Kualitas udara memburuk terutama pada malam hingga pagi hari akibat fenomena inversi suhu yang menjebak asap di dekat permukaan tanah.
Menanggapi bahaya polusi udara dan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim mengambil langkah darurat dengan menghentikan sementara pembelajaran tatap muka.
Plt Kepala Disdikbud Kaltim, Armin, menegaskan bahwa seluruh kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak seperti Samarinda dialihkan menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sekolah daring mulai 17 hingga 19 September 2026 demi keselamatan siswa.
Melalui kombinasi penanganan darat dan pemancingan hujan buatan via OMC ini, pemerintah berharap dapat segera memadamkan titik api serta memulihkan kualitas udara bagi masyarakat Kaltim.

























