BNPB bangun 50 hunian sementara untuk korban longsor Banjarnegara
Upaya pencarian dan pertolongan yang berlangsung selama sepuluh hari resmi dihentikan pada Selasa. Keselamatan tim menjadi pertimbangan utama penghentian operasi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mempercepat pembangunan 50 unit hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak longsor di Desa Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Fasilitas ini menjadi langkah awal sebelum penyediaan hunian tetap, sekaligus memastikan para pengungsi memiliki tempat tinggal yang layak setelah bencana besar melanda wilayah tersebut pada 16 November.
Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, mengatakan pada Selasa, bahwa pembangunan huntara ditargetkan rampung sebelum akhir Desember. Hingga kini, 1.019 warga yang terdiri atas 343 kepala keluarga masih menempati pos-pos pengungsian setelah rumah mereka hancur akibat longsor.
Data dari posko utama SAR di Pandanarum mencatat 17 korban meninggal, termasuk dua bagian tubuh manusia, sementara 11 orang lainnya masih belum ditemukan.
Operasi SAR dihentikan
Upaya pencarian dan pertolongan yang berlangsung selama sepuluh hari resmi dihentikan pada Selasa. Keputusan tersebut diambil setelah evaluasi gabungan antara BNPB, Basarnas, pemerintah daerah, dan unsur terkait lainnya. Keselamatan tim menjadi pertimbangan utama penghentian operasi.
Tim SAR menghadapi situasi lapangan yang sangat berat. Material longsoran yang basah dan minim sirkulasi udara mempercepat kerusakan jenazah, sehingga mempersulit identifikasi sekaligus meningkatkan risiko kesehatan bagi petugas. Meski demikian, aparat BNPB, Basarnas, TNI-Polri, BPBD lintas daerah, PMI, Tagana, relawan, hingga dukungan alat berat telah bekerja dengan prosedur keselamatan ketat.
Pada hari terakhir pencarian, lima jenazah tambahan ditemukan dan dibawa ke RSUD Banjarnegara untuk diidentifikasi. Namun, gabungan metode pencarian di medan ekstrem tidak mampu menemukan 11 korban lain yang masih hilang.
Selain korban jiwa, longsor menyebabkan kerusakan fisik yang besar: 206 rumah rusak, dua masjid dan satu tempat ibadah terdampak, infrastruktur antar desa sepanjang 800 meter tertimbun, saluran irigasi rusak lebih dari 670 meter, lahan pertanian rusak, serta hilangnya ternak dan usaha warga, termasuk lima sapi, 125 kambing, tiga warung sembako, sebelas warung lain, serta 24 kolam ikan.
BNPB menilai Kabupaten Banjarnegara dan sejumlah wilayah rawan bencana di Jawa Tengah membutuhkan penguatan mitigasi berbasis teknologi. Para ahli teknologi kebencanaan BNPB menekankan pentingnya pembangunan sistem peringatan dini multi-hazard serta peningkatan koordinasi lintas kementerian.