Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengatakan penyesuaian impor dilakukan untuk menjamin ketersediaan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.
“Impor LPG tahun ini naik menjadi 7,8 juta ton. Komposisinya 70 persen dari Amerika Serikat dan 30 persen dari Timur Tengah, khususnya dari Saudi Aramco,” ujar Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.
Bagian dari kesepakatan dagang dengan AS
Kenaikan volume impor ini merupakan tindak lanjut dari perjanjian dagang timbal balik senilai US$15 miliar yang ditandatangani di Washington bulan lalu. Kesepakatan tersebut mencakup perdagangan produk energi, termasuk bensin dan LPG.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat hubungan dagang dengan Amerika Serikat sekaligus mengupayakan keringanan tarif dari Gedung Putih.
Indonesia sendiri masih bergantung pada impor LPG karena produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional. Konsumsi LPG, terutama untuk rumah tangga penerima subsidi, terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Antisipasi risiko konflik Timur Tengah
Bahlil juga menyoroti potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah akibat memanasnya konflik yang melibatkan Iran. Ketegangan di kawasan itu turut berdampak pada jalur pelayaran strategis, termasuk Selat Hormuz, yang menjadi salah satu titik krusial perdagangan minyak dan gas dunia.
Menurutnya, situasi tersebut dapat memengaruhi distribusi energi, termasuk pasokan yang berkaitan dengan Saudi Aramco.
“Informasi yang kami terima, ketegangan di Timur Tengah juga berdampak pada Saudi Aramco. Alternatif kita adalah melakukan pengalihan pasokan. Kita tidak ingin mengambil risiko, sehingga sebagian pengadaan akan diarahkan ke negara yang tidak terkait dengan jalur Selat Hormuz,” kata Bahlil.
Bagi Indonesia, stabilitas pasokan LPG menjadi isu krusial karena komoditas ini digunakan secara luas oleh masyarakat, khususnya untuk kebutuhan memasak rumah tangga. Pemerintah memastikan akan terus memantau dinamika global guna menjaga ketahanan energi nasional.

















