Amerika Serikat menegaskan komitmennya untuk menghormati kedaulatan Indonesia sekaligus membuka ruang kerja sama yang lebih erat dalam menjaga stabilitas kawasan. Wakil Menteri Pertahanan AS Elbridge A. Colby menyampaikan bahwa setiap negara, termasuk Indonesia, memiliki hak penuh untuk menentukan pendekatan terbaik dalam melindungi wilayahnya.
Dalam taklimat media daring yang dipantau dari Jakarta, Colby menekankan bahwa Washington ingin membangun kemitraan berdasarkan perspektif masing-masing negara.
“Kami sangat menghormati hal tersebut dan ingin bekerja sama dengan negara-negara seperti Indonesia berdasarkan perspektif mereka sendiri mengenai cara menjaga kedaulatan mereka,” ujarnya sebagaimana dikutip oleh Antara.
Ia menjelaskan, strategi AS di kawasan berfokus pada menjaga keseimbangan kekuatan melalui kombinasi kekuatan militer dan diplomasi aktif. Menurutnya, hubungan yang kuat dengan AS dapat memberikan nilai tambah bagi negara-negara mitra, termasuk dalam memperkuat kemampuan mempertahankan integritas wilayah.
Colby juga menegaskan bahwa upaya tersebut tidak ditujukan untuk melemahkan pihak mana pun. “Kami sama sekali tidak berniat melemahkan atau mengganggu kedaulatan Indonesia. Kami justru ingin memperkuatnya,” katanya.

Kerjasama regional
Pendekatan serupa, lanjut Colby, diterapkan dalam hubungan AS dengan sejumlah negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Filipina, serta juga relevan bagi Vietnam, Malaysia, dan Singapura. Ia mengakui bahwa kerja sama regional hanya dapat berjalan efektif jika didasarkan pada kepentingan yang saling menguntungkan.
Lebih jauh, Colby menyebut kehadiran aktif AS di kawasan sejalan dengan kepentingan negara-negara regional. Tanpa keterlibatan tersebut, menurutnya, keseimbangan kekuatan sulit tercapai.
“Kami mengharapkan berlanjutnya keseimbangan kekuatan yang damai, yang pada gilirannya akan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih lanjut di seluruh kawasan ini,” ujarnya dikutip oleh Antara.
Dalam rangkaian kunjungannya, Colby bertemu dengan Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin pada 11 Agustus, sebelum dijadwalkan bertemu Presiden Prabowo Subianto keesokan harinya di Jakarta.
Pertemuan tersebut membahas perkembangan hubungan bilateral serta implementasi berbagai program dalam kerangka Major Defense Cooperation Partnership (MDCP) yang dibentuk pada 13 April 2026.



























