Somalia membela wasit peraih penghargaan Omar Artan setelah ia ditolak masuk ke Amerika Serikat, sehingga gagal menjadi ofisial asal Somalia pertama yang memimpin pertandingan putaran final Piala Dunia.
Dalam pernyataan pada Selasa, Kementerian Olahraga Somalia menyampaikan "penyesalan mendalam" atas penolakan terhadap Artan. Kementerian mengatakan bahwa meskipun telah dilakukan upaya diplomatik dengan otoritas AS dan badan sepak bola dunia FIFA, "tidak mungkin mencapai hasil yang positif".
Artan, yang pada 2025 dinobatkan sebagai Wasit Pria Terbaik Tahun Ini oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF), ditolak memasuki AS pada Sabtu setelah tiba di Bandara Internasional Miami.
Penunjukan Artan sebelumnya menjadi sumber kebanggaan besar bagi rakyat Somalia. Presiden Hassan Sheikh Mohamud pada April menyebutnya sebagai "simbol inspirasi bagi generasi baru warga Somalia".
Juru bicara Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS (CBP) mengatakan Artan ditolak masuk setelah menjalani pemeriksaan rutin.
Artan termasuk dalam 52 wasit yang dipilih FIFA untuk bertugas di putaran final Piala Dunia yang digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat.
Somalia kembali menegaskan "dukungan penuh yang tak tergoyahkan" kepada Artan, seraya menyatakan pihaknya memiliki keyakinan penuh terhadap integritas, profesionalisme, serta kontribusinya bagi perkembangan sepak bola di Somalia maupun di tingkat internasional.
"Artan merepresentasikan talenta terbaik Somalia," demikian bunyi pernyataan tersebut.
FIFA mengonfirmasi kepada AFP bahwa Artan tidak akan ambil bagian dalam ajang sepak bola empat tahunan yang akan dimulai pada Kamis.
Juru bicara FIFA mengatakan Artan "tidak dapat mengikuti pelatihan dan memimpin pertandingan di Piala Dunia FIFA 2026 setelah ditolak masuk ke Amerika Serikat".
Sumber di CAF mengatakan kepada AFP pada Selasa bahwa badan sepak bola Afrika itu tidak dapat melakukan intervensi, namun menambahkan, "Kami tentu turut prihatin atas apa yang dialami Artan."
Sepak bola seharusnya menyatukan
Seorang penasihat pemerintah di Mogadishu sebelumnya mengatakan kepada AFP pada Senin bahwa Artan memiliki visa yang sah untuk memasuki Amerika Serikat.
Penolakan terhadap Artan memicu gelombang kecaman.
Mantan Perdana Menteri Somalia Hassan Ali Khaire mengatakan dirinya "sangat kecewa" dan meyakinkan Artan bahwa "Afrika dan dunia berdiri bersama Anda".
"Dia tidak hanya mewakili Somalia, tetapi juga harapan jutaan anak muda Afrika yang percaya bahwa keunggulan layak mendapat pengakuan di panggung dunia," tulis Khaire di X.
Mantan menteri Somalia Abdirashid Hashi mendesak FIFA untuk mendukung Artan. Menurutnya, "sepak bola seharusnya menyatukan orang, bukan mengecualikan".
Hashi menambahkan bahwa Artan "harus dinilai berdasarkan kemampuan dan profesionalismenya, bukan berdasarkan paspor yang dimilikinya". Ia menyebut keputusan tersebut sebagai "keputusan politik" oleh Amerika Serikat.
"Saya berharap Kanada dan Meksiko dapat menerbitkan visa bagi Artan. Tidak ada alasan seorang wasit yang ditolak masuk ke salah satu negara tuan rumah tidak dapat tetap berkontribusi dalam Piala Dunia yang diselenggarakan oleh tiga negara," katanya.
Dalam pernyataannya kepada AFP, Artan mengatakan dirinya tetap dalam suasana hati yang positif dan fokus menghadapi "tantangan berikutnya" dalam kariernya.
Somalia merupakan salah satu dari sejumlah negara yang masuk dalam daftar larangan perjalanan yang diberlakukan pemerintahan Presiden Donald Trump sebagai bagian dari kebijakan pengetatan imigrasi yang lebih luas.










