Pemerintah Indonesia mengusulkan pembentukan Perjanjian Perdagangan Preferensial (Preferential Trade Agreement/PTA) dengan blok ekonomi Amerika Latin, Common Market of the South (Mercosur). Langkah ini diambil sebagai strategi awal untuk membuka jalan menuju Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA).
Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri RI, Grata Endah Werdaningtyas, mengungkapkan bahwa belum tersiratnya kesepakatan bulat di antara negara anggota Mercosur menjadi ganjalan utama pembahasan CEPA.
"Karena itu, Indonesia mengusulkan menjajaki PTA untuk sektor-sektor tertentu untuk membuka jalan dengan Mercosur, karena pada akhirnya salah satu komponen CEPA adalah PTA," ujar Grata dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (14/9).
Sebagai organisasi kawasan, Mercosur mengedepankan sistem konsensus. Beberapa negara anggota dilaporkan masih bersikap hati-hati dalam membuka akses pasar akibat kekhawatiran atas kemiripan komoditas utama yang dimiliki dengan Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, pemerintah meyakinkan bahwa kemiripan produk justru berpotensi saling melengkapi (komplementer). Skema PTA ini nantinya dirancang agar dapat berkembang bertahap, mulai dari perdagangan barang hingga merambah ke sektor jasa dan investasi.
Senada dengan Kemlu, Menteri Perdagangan RI Budi Santoso menyebut opsi PTA sebagai langkah pragmatis untuk mempercepat kerja sama ekonomi yang sempat tersendat.
"Kami berharap Brasil dapat membantu membangun kesepakatan di antara negara-negara anggota Mercosur dan mendorong kemajuan proses negosiasi Indonesia-Mercosur PTA," tutur Budi usai menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Pembangunan, Industri, Perdagangan, dan Jasa Brasil, Marcio Fernando Elias Rosa, di Jaipur, India.
Saat ini, blok perdagangan Mercosur beranggotakan lima negara Amerika Selatan, yakni Brasil, Argentina, Paraguay, Uruguay, dan Bolivia.






















