ASIA
2 menit membaca
31 rumah sakit di Aceh kembali beroperasi dua pekan pascabencana
Sebanyak 31 rumah sakit yang terdampak banjir dan longsor di Aceh dan wilayah Sumatera lainnya dipastikan kembali melayani pasien. Pemerintah memprioritaskan layanan darurat dan penyelamatan nyawa meski pemulihan dilakukan bertahap.
31 rumah sakit di Aceh kembali beroperasi dua pekan pascabencana
Ambulans dikerahkan untuk pemakaman massal korban banjir bandang dan tanah longsor di Padang. / Reuters

Kementerian Kesehatan memastikan seluruh rumah sakit yang terdampak bencana di Aceh kembali beroperasi dalam waktu dua pekan setelah kejadian. Pemulihan layanan kesehatan dilakukan melalui percepatan revitalisasi dengan mengutamakan layanan krusial yang berkaitan langsung dengan keselamatan pasien.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, operasional rumah sakit tetap harus berjalan meski kondisi fasilitas belum sepenuhnya pulih. Pembukaan layanan dilakukan secara bertahap, namun layanan yang menyangkut keselamatan jiwa harus tetap berjalan.

“Yang penting beroperasi dulu. Bukanya memang bertahap, tapi layanan yang menyangkut nyawa harus jalan,” ujar Budi dikutip dari RRI.

Kebijakan tersebut diambil setelah Menkes meninjau langsung tingkat kerusakan rumah sakit di lapangan. Secara keseluruhan, terdapat 31 rumah sakit di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara yang terdampak bencana dan ditargetkan tetap melayani masyarakat meski belum dalam kondisi ideal.

Layanan krusial tetap berjalan

Budi menegaskan, layanan instalasi gawat darurat (IGD) dan hemodialisis atau cuci darah tidak boleh terhenti dalam kondisi apa pun. Hingga kini, seluruh layanan cuci darah di rumah sakit terdampak telah kembali beroperasi.

Bahkan, rumah sakit dengan tingkat kerusakan paling parah kini sudah dapat melayani pasien setelah dilakukan pemasangan instalasi sementara untuk mendukung operasional dasar.

Menkes juga mengapresiasi kerja cepat relawan, tenaga kesehatan, dan manajemen rumah sakit dalam mempercepat pemulihan layanan pascabencana. Menurutnya, kerusakan fasilitas kesehatan bersifat kompleks, mulai dari bangunan hingga sistem pendukung seperti instalasi pengolahan air limbah (IPAL), sehingga penanganannya harus dilakukan secara terpadu.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mencapai 1.112 jiwa per Selasa (23/12). Angka tersebut bertambah enam orang dibandingkan laporan sebelumnya.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, jumlah korban hilang juga meningkat menjadi 176 orang. Proses pencarian masih terus dilakukan oleh tim gabungan di lapangan.

“Upaya pencarian dan pertolongan terhadap korban terdampak bencana masih terus berlangsung dengan mengerahkan personel dan peralatan sesuai kondisi di lapangan,” ujar Abdul Muhari.

TerkaitWabah penyakit meluas setelah banjir mematikan di Aceh Tamiang - TRT Indonesia - TRT Indonesia
SUMBER:TRT Indonesia