BISNIS DAN TEKNOLOGI
2 menit membaca
IHSG anjlok 1,81 persen imbas inflasi AS dan merosotnya daya saing RI
Kombinasi tekanan eksternal dari kekhawatiran kebijakan The Fed dan catatan fundamental domestik memicu aksi jual massal di pasar saham.
IHSG anjlok 1,81 persen imbas inflasi AS dan merosotnya daya saing RI
FOTO ARSIP: Bursa Efek Indonesia (IDX) di Jakarta. / Reuters

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah tajam pada awal perdagangan menjelang akhir pekan, Jumat (26/6). Per pukul 10.16 WIB, indeks anjlok hingga 108,49 poin atau merosot 1,81 persen ke level 5.890,546, menjauh dari zona psikologis 6.000.

Analis menilai jatuhnya indeks bursa domestik ini dipicu oleh akumulasi sentimen negatif, baik dari rilis data ekonomi global maupun evaluasi terhadap fundamental ekonomi dalam negeri.

Sorotan Tajam pada Daya Saing Indonesia

Dari dalam negeri, para pelaku pasar jangka panjang dilaporkan tengah mencermati penurunan signifikan posisi Indonesia dalam World Competitiveness Ranking. Dalam dua tahun terakhir, peringkat daya saing RI merosot tajam sebanyak 21 peringkat, dari posisi ke-27 terlempar ke urutan ke-48 dari total 70 negara.

“Penurunan peringkat daya saing Indonesia tersebut masih menjadi catatan fundamental domestik yang dicermati oleh investor jangka panjang dalam menilai prospek investasi,” ujar Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, Jumat (26/6).

Reaksi Kejut Inflasi Amerika Serikat

Selain faktor domestik, sentimen eksternal menjadi motor utama runtuhnya IHSG hari ini. Angka inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat dilaporkan merangkak naik ke level 4,1 persen secara tahunan (year on year/YoY).

Kenaikan tersebut sempat memicu kepanikan instan di pasar finansial global karena memunculkan spekulasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan kembali bersikap galak (hawkish) dengan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Meski demikian, Investment Specialist KISI Sekuritas, Azharys Hardian, menilai koreksi mendalam ini lebih cenderung sebagai reaksi kejut sesaat (shock reaction) ketimbang perubahan tren fundamental.

"Jika dicermati lebih lanjut melalui data CME FedWatch Tool, mayoritas pelaku pasar global saat ini sebenarnya masih memasang ekspektasi besar bahwa bank sentral AS tersebut akan tetap memilih untuk menahan suku bunga acuannya," ungkap Azharys.

Ratusan Saham Berguguran

Pada perdagangan hari ini, IHSG sebenarnya dibuka di area 6.010,339 dan sempat menguat ke posisi tertinggi 6.045,258. Namun, tekanan jual yang masif menyeret indeks jatuh ke titik terendahnya di angka 5.888,490.

Aksi ambil untung dan kepanikan pasar membuat sektor saham berguguran berjamaah. Tercatat sebanyak 528 saham melemah, sementara hanya 108 saham yang berhasil menguat, dan 158 saham lainnya stagnan. Nilai transaksi pada sesi tersebut mencapai Rp4,014 triliun dengan volume perdagangan menyentuh 7,417 miliar lembar saham.

SUMBER:TRT Indonesia