Otoritas pemilu Ekuador menyatakan Daniel Noboa sebagai pemenang dalam pemilihan presiden putaran kedua, setelah kandidat berusia 37 tahun itu mengungguli pesaingnya dari kubu kiri dengan selisih yang lebih besar dari perkiraan.
Dengan 90 persen suara telah dihitung pada Minggu, Noboa memperoleh 56 persen suara, unggul atas Luisa Gonzalez yang meraih 44 persen, berdasarkan hasil resmi. Dewan Pemilu Nasional pun mengumumkan kemenangan Noboa.
Namun sebelum hasil itu diumumkan, Gonzalez menyampaikan keberatannya dan menyatakan akan meminta penghitungan ulang.
“Saya menolak untuk percaya bahwa rakyat lebih memilih kebohongan daripada kebenaran,” ujar Gonzalez usai melihat hasil yang dianggap di luar ekspektasi. “Kami akan mengajukan permintaan penghitungan ulang.”

Fokus pada isu keamanan
Pemilu kali ini berlangsung di tengah krisis ekonomi, meningkatnya angka kemiskinan, pemadaman listrik, dan lonjakan kasus kejahatan kekerasan.
Menanggapi kondisi tersebut, Noboa mengumumkan status darurat selama 60 hari di tujuh provinsi, termasuk ibu kota Quito, sehari sebelum pemilu digelar.
Bagi banyak pemilih, isu keamanan menjadi perhatian utama.
Dalam kampanyenya, Noboa menekankan pentingnya stabilitas ekonomi dan masuknya investasi asing. Ia berargumen bahwa ekonomi yang kuat merupakan fondasi utama dalam mengatasi tantangan keamanan.
Ekuador, yang sebelumnya dikenal sebagai negara relatif aman di kawasan, kini menjadi salah satu negara paling berbahaya di Amerika Latin. Pada 2024, tingkat pembunuhan tercatat mencapai 39 per 100.000 penduduk. Dua bulan pertama tahun 2025 menunjukkan peningkatan 72 persen dalam kasus pembunuhan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.














