POLITIK
2 menit membaca
Otoritas pemilu Ekuador nyatakan Noboa menang pilpres, Gonzalez tolak hasil
Kandidat sayap kiri Luisa Gonzalez menolak hasil sementara dan menyatakan akan mengajukan permintaan penghitungan ulang suara.
00:00
Otoritas pemilu Ekuador nyatakan Noboa menang pilpres, Gonzalez tolak hasil
Noboa memberikan suaranya di tempat pemungutan suara. / Reuters / Reuters

Otoritas pemilu Ekuador menyatakan Daniel Noboa sebagai pemenang dalam pemilihan presiden putaran kedua, setelah kandidat berusia 37 tahun itu mengungguli pesaingnya dari kubu kiri dengan selisih yang lebih besar dari perkiraan.

Dengan 90 persen suara telah dihitung pada Minggu, Noboa memperoleh 56 persen suara, unggul atas Luisa Gonzalez yang meraih 44 persen, berdasarkan hasil resmi. Dewan Pemilu Nasional pun mengumumkan kemenangan Noboa.

Namun sebelum hasil itu diumumkan, Gonzalez menyampaikan keberatannya dan menyatakan akan meminta penghitungan ulang.

“Saya menolak untuk percaya bahwa rakyat lebih memilih kebohongan daripada kebenaran,” ujar Gonzalez usai melihat hasil yang dianggap di luar ekspektasi. “Kami akan mengajukan permintaan penghitungan ulang.”

TerkaitTRT Global - Ekuador gelar putaran kedua pilpres yang ketat di tengah krisis ekonomi dan kekerasan

Fokus pada isu keamanan

Pemilu kali ini berlangsung di tengah krisis ekonomi, meningkatnya angka kemiskinan, pemadaman listrik, dan lonjakan kasus kejahatan kekerasan.

Menanggapi kondisi tersebut, Noboa mengumumkan status darurat selama 60 hari di tujuh provinsi, termasuk ibu kota Quito, sehari sebelum pemilu digelar.

Bagi banyak pemilih, isu keamanan menjadi perhatian utama.

Dalam kampanyenya, Noboa menekankan pentingnya stabilitas ekonomi dan masuknya investasi asing. Ia berargumen bahwa ekonomi yang kuat merupakan fondasi utama dalam mengatasi tantangan keamanan.

Ekuador, yang sebelumnya dikenal sebagai negara relatif aman di kawasan, kini menjadi salah satu negara paling berbahaya di Amerika Latin. Pada 2024, tingkat pembunuhan tercatat mencapai 39 per 100.000 penduduk. Dua bulan pertama tahun 2025 menunjukkan peningkatan 72 persen dalam kasus pembunuhan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

SUMBER:TRT World and Agencies
Jelajahi
Ketegangan di Selat Hormuz: Bagaimana konflik AS-Iran mengganggu pertemuan puncak Trump-Xi
Indonesia tegaskan politik bebas-aktif lewat kunjungan ke Rusia, Prancis, dan AS
Forum di era pergeseran: Bagaimana forum di Antalya mencari "kompas" geopolitik
Sanksi untuk Kuba, Iran, Irak: Apa yang diungkapkan tentang kekuatan koersif barat?
Kemlu kirim surat ke Kemhan soal izin udara militer AS, peringatkan konflik Laut China Selatan
Trump serang Paus Leo XIV di tengah meningkatnya ketegangan perang Iran
Elang atau merpati: Siapa saja negosiator kunci dalam pembicaraan Iran-AS di Islamabad?
Akankah gencatan senjata AS-Iran menjadi perdamaian yang jangka panjang?
'Utang 400 tahun': Langkah Ghana di PBB dan warisan kelam perdagangan budak Atlantik
Pemimpin junta Myanmar dinominasi jadi wakil presiden, bergerak menuju kekuasaan sipil
Bagaimana obsesi Netanyahu dengan kelangsungan politik memperburuk retakan internal Israel
Trump jeda di Iran: Jendela diplomasi atau hitung mundur eskalasi?
Ambang perang nuklir: Bisakah perang AS dan Israel terhadap Iran berubah menjadi perang atom?
Indonesia tidak akan menerima pangkalan militer asing, Prabowo soroti aliansi non-blok
Perang Iran dan keraguan yang semakin besar tentang perlindungan AS
Presiden Prabowo tegaskan kembali sikap netral di tengah eskalasi konflik Timur Tengah
Perang Amerika atau Israel? Perdebatan yang mengguncang Washington terkait Iran
Israel membunuh Khamenei: Apakah larangan global untuk pembunuhan pemimpin negara telah hancur?
Mengapa pujian selektif Netanyahu terhadap tentara 'India' mendistorsi sejarah
70 tahun hubungan diplomatik, Indonesia–Mongolia perkuat kemitraan