Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terparah dalam satu dekade terakhir terus mengancam kelestarian orang utan di Kalimantan. Ancaman asap pekat dan hilangnya habitat alami memaksa tim penyelamat mengevakuasi puluhan satwa terancam punah tersebut dari area perkebunan sawit dan pemukiman warga.
Pusat rehabilitasi yang dikelola Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, kini merawat sekitar 90 ekor orang utan. Sejak Agustus 2026, YIARI mencatat telah menyelamatkan 49 ekor orang utan—angka yang melonjak drastis dibandingkan rata-rata penyelamatan tiga hingga lima ekor per tahun dalam tiga tahun terakhir.
Pendiri YIARI, Karmele Llano Sanchez, menilai kondisi karhutla saat ini berpotensi sama parahnya dengan krisis kebakaran hutan pada 2015 silam.
"Dampaknya mungkin akan berlanjut pada bulan-bulan mendatang. Orang utan terancam kekurangan makanan, kehilangan ruang hidup, hingga mengalami kelaparan," kata Sanchez.
Ancaman ISPA dan keterbatasan fasilitas
Karhutla yang dipicu oleh pola cuaca El Niño ini tidak hanya melahap ratusan ribu hektar lahan, tetapi juga menimbulkan paparan asap berbahaya bagi satwa. Salah satu kasus tragis dialami seekor orang utan jantan bernama Sampurna. Ia ditemukan dalam kondisi kritis akibat gangguan pernapasan parah di area perkebunan kelapa sawit sebelum akhirnya mati tidak lama setelah dievakuasi.
Hasil otopsi menunjukkan paru-paru Sampurna berwarna sangat gelap akibat menghirup asap pekat, menyerupai kondisi paru-paru perokok berat.
Petugas Lapangan YIARI, Relly Susanto, menjelaskan bahwa maraknya titik api memaksa orang utan keluar dari habitatnya menuju area perkebunan warga untuk mencari makan dan perlindungan. Tim penyelamat harus menembus hutan terbakar dan menggunakan teknologi pemantauan drone guna mendeteksi keberadaan satwa tersebut sebelum ditranskulasi.
Pemerintah memperkirakan karhutla masih berpotensi berlangsung hingga November mendatang. Meski saat ini fasilitas YIARI di Ketapang masih mampu menampung satwa hasil evakuasi, pihak yayasan mengkhawatirkan daya tampung pusat rehabilitasi jika kebakaran tak kunjung mereda.



















