Sedikitnya 16 orang tewas dalam sepekan protes di Iran, kata kelompok HAM

Protes akibat lonjakan inflasi meluas ke berbagai wilayah, memicu peringatan dari AS dan dukungan dari Israel.

By
Para aktivis berunjuk rasa mendukung para demonstran Iran di dekat Gedung Putih di Washington, DC, pada 3 Januari 2026. / AP

Sedikitnya 16 orang tewas selama sepekan kerusuhan di Iran, kata kelompok hak asasi manusia pada Minggu, seiring meluasnya protes atas lonjakan inflasi yang memicu bentrokan keras antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan.

Kematian dan penangkapan dilaporkan sepanjang pekan oleh media pemerintah maupun kelompok HAM, meski angka yang disampaikan berbeda-beda. Reuters menyebut belum dapat memverifikasi data tersebut secara independen.

Protes ini menjadi yang terbesar dalam tiga tahun terakhir. Meski skalanya lebih kecil dibanding gelombang kerusuhan sebelumnya, aksi-aksi itu terjadi pada saat Iran berada dalam kondisi rentan, dengan ekonomi yang terpuruk dan tekanan internasional yang meningkat.

Pemimpin tertinggi: Iran tak akan tunduk pada musuh

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan membantu para pengunjuk rasa jika mereka menghadapi kekerasan. Pada Jumat, ia mengatakan “kami siap sepenuhnya,” tanpa merinci langkah apa yang akan diambil.

Pernyataan itu memicu ancaman balasan terhadap pasukan AS di kawasan dari pejabat senior Iran. Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menegaskan negaranya “tidak akan tunduk pada musuh.”

Pada Minggu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menyatakan dukungan bagi para pengunjuk rasa di Iran.

“Kami berdiri dalam solidaritas dengan perjuangan rakyat Iran dan aspirasi mereka untuk kebebasan, kemerdekaan, dan keadilan,” kata Netanyahu dalam rapat kabinet mingguan.

“Sangat mungkin kita sedang berada pada momen ketika rakyat Iran mengambil nasib mereka sendiri,” ujarnya, seperti dikutip dalam pernyataan kantor perdana menteri.

Korban bertambah saat Iran bidik penggerak protes

HRANA, jaringan aktivis HAM, melaporkan sedikitnya 16 orang tewas dan 582 orang ditangkap.

Kepala Kepolisian Iran Ahmad-Reza Radan mengatakan kepada media pemerintah bahwa aparat keamanan dalam dua hari terakhir menargetkan para pemimpin protes untuk ditangkap. “Sejumlah besar pemimpin di ruang virtual telah ditahan,” ujarnya.

Bentrok paling sengit dilaporkan terjadi di wilayah barat Iran. Namun, protes dan bentrokan antara demonstran dan polisi juga berlangsung di ibu kota Teheran, wilayah tengah, serta provinsi Baluchistan di selatan.

Larut malam Sabtu, gubernur Qom—pusat konservatif lembaga ulama Syiah Iran—mengatakan dua orang tewas akibat kerusuhan di wilayahnya. Salah satunya meninggal ketika bahan peledak rakitan yang dibuatnya meledak sebelum waktunya.

HRANA dan kantor berita yang berafiliasi dengan negara, Tasnim, melaporkan otoritas juga menahan pengelola akun daring yang menyerukan aksi protes.

Nilai mata uang merosot tajam

Protes bermula sekitar sepekan lalu di kalangan pedagang bazar dan pemilik toko, kemudian meluas ke mahasiswa dan kota-kota di daerah. Dalam beberapa aksi, pengunjuk rasa meneriakkan slogan menentang para pemimpin ulama Iran.

Sejak awal tahun Iran pada Maret, inflasi tercatat di atas 36 persen dan nilai tukar rial telah merosot sekitar setengahnya terhadap dolar AS, memicu kesulitan hidup bagi banyak warga.

Sanksi internasional terkait program nuklir Iran yang mahal kembali diberlakukan. Pemerintah juga kesulitan menyediakan air dan listrik sepanjang tahun, sementara lembaga keuangan global memprediksi Iran akan mengalami resesi pada 2026.

Otoritas menempuh pendekatan ganda terhadap protes, dengan mengakui krisis ekonomi dan menawarkan dialog, namun merespons aksi perlawanan yang lebih keras dengan kekerasan.

Khamenei pada Sabtu mengatakan meski pemerintah akan berbicara dengan para pengunjuk rasa, “para perusuh harus ditempatkan pada tempatnya.”