ASIA
2 menit membaca
DKI siapkan Rp102 miliar untuk bongkar tiang monorel mangkrak
Anggaran sebesar Rp102 miliar disiapkan untuk membongkar tiang monorel mangkrak sekaligus menata kawasan Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. Dana tersebut mencakup penataan infrastruktur jalan hingga ruang pedestrian.
DKI siapkan Rp102 miliar untuk bongkar tiang monorel mangkrak
Gubernur Pramono memulai penataan Kawasan Kuningan, dengan membongkar tiang monorel. Foto: X/@prastow
sehari yang lalu

Pemprov DKI Jakarta mengalokasikan sekitar Rp102 miliar untuk pembongkaran tiang monorel mangkrak di kawasan Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, sekaligus penataan menyeluruh wilayah tersebut. Penataan meliputi badan jalan, trotoar, drainase, hingga taman dan estetika kawasan.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan anggaran ratusan miliar rupiah itu bukan diperuntukkan bagi biaya pemotongan tiang monorel. Menurut dia, biaya pemotongan hanya sekitar Rp254 juta.

“Sekaligus saya ingin meluruskan bahwa yang Rp100 miliar itu bukan untuk motongnya. Motongnya hanya Rp254 juta. Yang besar itu penataannya,” kata Pramono saat meninjau pemotongan tiang monorel di Rasuna Said, Rabu (14/1).

Ia menjelaskan, anggaran Rp102 miliar akan difokuskan pada penataan jalan, saluran drainase, trotoar atau pedestrian, penerangan jalan umum (PJU), serta sarana pendukung lainnya di kawasan Rasuna Said.

“Penataannya ada jalan, ada selokan, ada pedestrian, penerangan jalan umum, dan sarana kelengkapan lainnya. Ini sudah dikaji secara mendalam,” ujarnya.

Secara keseluruhan, terdapat 109 tiang monorel yang akan dipotong dan ditata ulang di sepanjang Jalan Rasuna Said hingga kawasan Grand Melia. Seluruh pekerjaan ditargetkan rampung pada September 2026.

Proses pembongkaran dilakukan secara bertahap dan dikerjakan pada malam hari agar tidak mengganggu arus lalu lintas. Selama pekerjaan berlangsung, tidak ada penutupan jalan.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan pembongkaran dilakukan dengan skema satu tiang per malam, mulai pukul 23.00 hingga 05.00 WIB, disertai rekayasa lalu lintas di lajur lambat secara bertahap.

“Karena kepadatan lalu lintas di Jakarta itu bahkan sampai jam 10 malam, maka window time-nya dari jam 23.00 sampai dengan pukul 05.00,” kata Syafrin.

SUMBER:TRT Indonesia