Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia diperkirakan tetap berada pada jalur pertumbuhan positif pada awal 2026.
Ia menilai baik kuartal I maupun kuartal II berpeluang mencatatkan pertumbuhan di atas 5,5 persen, seiring berbagai kebijakan yang terus diperkuat pemerintah.
Menurut pemerintah, salah satu pendorong utama pertumbuhan adalah peningkatan belanja negara yang diarahkan lebih cepat dan tepat sasaran. Belanja pemerintah diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat, sekaligus mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor, terutama konsumsi rumah tangga yang masih menjadi penopang utama pertumbuhan nasional.
Selain itu, pemerintah juga menaruh perhatian pada peningkatan investasi, baik dari dalam negeri maupun asing. Arus investasi dinilai penting untuk memperluas kapasitas produksi, memperkuat industri, serta membuka lapangan kerja baru.
Reformasi kebijakan dan penyederhanaan regulasi disebut terus dilakukan untuk menjaga kepercayaan pelaku usaha.
Dari sisi penerimaan negara, pemerintah berupaya memperbaiki kinerja pajak dan kepabeanan guna mendukung ruang fiskal yang lebih sehat.
Dengan ruang fiskal yang lebih kuat, pemerintah berharap dapat lebih fleksibel dalam menjalankan program-program prioritas pembangunan.
Untuk mempercepat implementasi kebijakan, pemerintah juga membentuk satuan tugas khusus yang bertugas memastikan berbagai program ekonomi dapat berjalan lebih efektif di lapangan.
Langkah ini diharapkan mampu mengurangi hambatan birokrasi sekaligus mempercepat dampak kebijakan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung, pemerintah menilai perekonomian Indonesia relatif stabil. Pertumbuhan yang konsisten di atas 5 persen dalam beberapa tahun terakhir menjadi modal penting dalam menjaga optimisme, meski tantangan eksternal seperti gejolak geopolitik dan fluktuasi ekonomi global masih perlu diantisipasi.


















